Our Feeds
zhons

Muludan Trusmi 2019

Cirebon , trusmi 2019,-

Tahun ini acara Muludan Cirebon tempat di alin alun trusmi berlangsung selama 13 hari sampai 25 atau pelalan di sebut juga selawean malam puncak perayaan muludan di trusmi yaitu Malam Pelal.

Tradisi yang sudah berjalan bertahun-tahun itu bertempat di alun-alun trusmi dan sekitarnya, tradisi ini tak pernah sepi pengunjung. Sebelum acara Malam Pelal, banyak pedagang yang membuka lapak mereka hampir satu bulan lamanya.

Warga dari berbagai daerah, sengaja berkunjung ke muludan trusmi untuk bersilaturahmi dengan sesepuh buyut trusmi. Mereka melakukan tradisi Caos, datang dengan membawa hasil bumi sebagai bentuk bakti kepada tradisi.

Di arena muludan, pengunjung dimanjakan dengan berbagai dagangan yang dijual dari kebutuhan rambut sampai kaki, terutama aksesoris. Ada juga kebutuhan sandang untuk anak-anak sampai dewasa. Banyak ditemui pedagang khas muludan, mulai dari kapal otok-otok, replika alat-alat masak dari bambu dan alumunium. Serta berbagai kuliner khas Cirebon dan arena permainan anak yang ikut memeriahkan acara muludan untuk mendapatkan rejeki.

“Semoga acara ini tidak pernah punah, itung-itung pasar malem taunan yang besar. Saya slalu sempatkan mengunjungi muludan di trusmi setiap taun,seorang ibu membawa anak-anak juga sedang menemani buah hatinya menikmati permainan mancing ikan dan berbagai wahana mainan anak anak

zhons

Foto Memayu Buyut Trusmi 2019



Minggu pagi (20/10/2019),

 mereka mengular di pinggiran jalan sejak pukul 06.00 WIB untuk menyaksikan ider-ideran karnaval “Memayu Buyut Trusmi”.

Diiringi suara gamelan, beberapa pria berpakaian putih-putih serupa begawan menyeruak dari tengah kerumunan, mereka para kemit(petugas jaga makam keramat) yang bertugas mengirab 14 tombak pusaka warisan Ki Buyut Trusmi.
Di belakangnya, berbaris rombongan lelaki berseragam merah muda, memakai iket “mega mendung”, membawa welit alias atap rumbia.

 Rombongan pengirab 14 tombak pusaka warisan Ki Buyut Trusmi, Cirebon.
Berurutan di belakang pembawa welit, muncul rombongan peserta karnaval dari seluruh kukuban Cirebon lengkap dengan atraksi seni mereka. Mulai dari kelompok tari, street art costum, patung karakter berukuran raksasa, beragam hasil bumi dan makanan, iring- iringan kelompok berkuda, hingga kereta kencana.
Ider-ideran atau arak-arakan ini dihelat dari kompleks Makam Buyut Trusmi hingga Ke arah Panembahan
















Untuk detailNya mengenai sejarah Memayu buyut Trusmi selengkapnya klik link di bawah ini 


https://trussemi.blogspot.com/2019/09/memayu-buyut-trusmi-2019.html?m=1

Semoga dibtahun kedepan nya nanti aman dan kondustif


zhons

Memayu buyut trusmi 2019



Minggu pagi (20/10/2019),

 mereka mengular di pinggiran jalan sejak pukul 06.00 WIB untuk menyaksikan ider-ideran karnaval “Memayu Buyut Trusmi”.

Diiringi suara gamelan, beberapa pria berpakaian putih-putih serupa begawan menyeruak dari tengah kerumunan, mereka para kemit(petugas jaga makam keramat) yang bertugas mengirab 14 tombak pusaka warisan Ki Buyut Trusmi.
Di belakangnya, berbaris rombongan lelaki berseragam merah muda, memakai iket “mega mendung”, membawa welit alias atap rumbia.

 Rombongan pengirab 14 tombak pusaka warisan Ki Buyut Trusmi, Cirebon.
Berurutan di belakang pembawa welit, muncul rombongan peserta karnaval dari seluruh kukuban Cirebon lengkap dengan atraksi seni mereka. Mulai dari kelompok tari, street art costum, patung karakter berukuran raksasa, beragam hasil bumi dan makanan, iring- iringan kelompok berkuda, hingga kereta kencana.
Ider-ideran atau arak-arakan ini dihelat dari kompleks Makam Buyut Trusmi hingga Ke arah Panembahan

“Acara ini digelar setiap tahun menjelang musim hujan,” menurut masyarakat

sebagai wujud syukur kepada Yang Maha Kuasa,
Terlepas dari pro-kontra yang belakangan muncul dalam memaknai ritus “memayu”, upacara ini nyatanya masih terus diuri-uri oleh masyarakat Cirebon.


Istilah “memayu” sendiri berasal dari kata “hayu” yang berarti cantik, indah atau selamat. Kata memayu mendapat awalan “ma” menjadi “mamayu” yang berarti mempercantik, memperindah atau meningkatkan keselamatan. Namun setelah sering-sering diucapkan, kata mamayu menjadi popular disebut memayu .
Menurut Casta dan Taruna dalam Batik Cirebon, memayu dalam bahasa kawi berarti mbagusi, memperbaiki atau membuat bagus.
Sedangkan khusus dalam  konteks upacara memayu dan ider-ideran Trusmi, kata memayu mengandung dua pengertian. Pertama, memayu dimaksudkan untuk memperbaiki atap-atap masjid Trusmi yang sudah lama dan menggantikannya dengan  yang  baru. Kedua, memayu berarti mbagusi (memperbaiki) diri manusia dari sifat-sifat lama yang jelek dengan sifat-sifat

Pada mulanya tujuan utama dari upacara memayu diyakini sebagai penyebaran agama Islam. Rangkaian kegiatannya antara lain: ganti welit (mengganti atap rumbia) dan buka sirap (mengganti atap situs Buyut Trusmi dengan kayu jati), mengganti atap masjid, sehari setelah acara kirab budaya, dan tahlilan pada malam harinya.
Buka sirap dan ganti welit harus dilakukan pada hari Senin, berkaitan dengan hari lahir Nabi Muhammad SAW.
Disamping itu, spiritualitas yang diajarkan Ki Buyut Trusmi sebagai ulama yang memimpin masyarakat Trusmi terkandung dalam setiap pertunjukan yang digelar saat memayu. Salah satunya ialah pentas brai, yaitu seni tradisi yang memiliki nilai religiusitas tinggi.
Mengutip tulisan Dede Wahidin, “Potensi Kesenian Daerah Cirebon”, istilah brai sendiri berasal dari kata “brahi” yang berarti menyatu atau kasmaran atau jatuh cinta.
Dalam konteks ini maksud dari pada brai ialah penyatuan diri seorang hamba sebagai wujud kecintaaanya kepada Sang Khaliq yang mereka ungkapkan melalui media seni. Selain itu makna-makna yang tersirat dalam upacara-upacara tersebut mengandung nilai-nilai luhur dan norma-norma syari’at Islam

zhons

Bunga Eceng Gondok Ala Korea

Berita yang sangat mengembirakan khususnya warga wadas kecamatan plered kabupaten cirebon ini sangat mengejutkan betapa tidak , di tempat kampung halaman ,ada sebuah tanaman air nama tanaman itu ialah enceng gondok atau eceng gondok

Tumbuhnya eceng gondok disertai bunga yang indah, di Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon, banyak diburu warga. Terlebih menjelang sore hari, tak sedikit pengunjung yang sengaja datang ke lokasi untuk berfoto dengan background bunga eceng gondok. Tempat ini pun kemudian viral saat ini di facebook dan instagram,









Mereka yang datang dari berbagai daerah baru baru ini saya dengar dari daerah
 trusmi,kalitengah,panembahan,setu kulon,setu wetan,tengah tani, kedawung dan ada juga dari cirebon kota ada pun mereka yang datang dari luar kota cirebon,

Tempat yang sangat indah untuk berfoto ria

WADAS CIREBON ALA KOREA

 #Trussemi blog
zhons

Babad pengampon TANAH PENGAMPUNAN

BABAD PENGAMPON " TANAH PENGAMPUNAN." Konon di ceritakan, Nyi Endang Geulis adalah putri Syech Danuwarsih juga istri dari Pangeran Cakra Buana (Mbah Kuwu Cerbon) yang pernah singgah beberapa waktu di Pengampon untuk berda'wah dan menyebarkan agama islam, Beliau Nyi Endang Geulis meninggalkan Petilasan dan sebuah sumur yang hingga sampai sekarang masih tetap terpelihara dan juga konon, Beliau mendirikan sebuah surau atau mushola di daerah yang namanya Tegalan, yang sekarang sudah menjadi bagian dari sebuah wilayah kecamatan Jamblang. Beliau di yakini pula oleh masyarakat sekitar mempunyai sebuah piaraan seekor kerbau bule atau yang kata orang sunda bilang "munding bodas", sehingga konon meninggalkan sebuah bekas kubangan (tempat kerbau mandi). Pada saat itu hingga kini di percaya lokasi kubangannya kira kira berada di sebelah utara yang lokasinya hanya beberapa meter dari Pendopo kuburan (makam) Bontot di blok Pengampon kulon Rt 01. Dan juga ada sebuah Petilasan Keramat Nyi Endang Geulis sendiri berada di belakang balai desa Danawinangun namun Petilasan aslinya sebenarnya adalah di balai desa itu sendiri. Hingga kini masih terlihat dari jalan raya Klangenan - Panguragan yang sekarang menjadi nama jalanya jln.

Nyi Endang Geulis. Sekilas sejarah Pengampon berikut keterkaitannya dengan Nyi Endang Geulis, sudah menjadi kebiasaan seorang tokoh di masa lalu baik seorang tokoh agama ataupun seorang tokoh pemimpin selalu mempunyai riwayat Babad Alas atau Totor Alas sebagai cikal bakal mendirikan sebuah pemukiman baru berupa perkampungan penduduk. Konon sebelum beliau ke daerah Pengampon, terlebih dahulu Beliau ke daerah Tegalan. Dinamai daerah Tegalan karena dahulunya konon daerahnya berupa tanah lapang yang di penuhi padang rumput ilalang dan semak belukar, tetapi tidak di tumbuhi pohon pohon yg tinggi, sekarang wilayah Tegalan sudah pemekaran dan masuk kedalam wilayah kecamatan Jamblang, dan Beliau juga sempat membangun sebuah surau atau mushola sebuah tempat untuk sholat di Tegalan dan termasuk juga yang menjadi babad alasnya beliau adalah wilayah di daerah blok Lebak sor dan daerah blok Karang Anyar yang sekarang juga masuk kewilayah desa Jamblang, lalu kemudian ke daerah blok Pandean yang sekarang masuk ke wilayah desa Serang (pemekaran).

Konon kisah Asal muasalnya nama Pengampon secara luas di ceritakan pertama kalinya Beliau atau kanjeng Nyi Endang Geulis masuk kewilayah daerah Pengampon (sekarang) dulunya masih belum dinamai Pengampon. Saat pertama kali datang, Beliau masuk ke dalam sebuah hutan (alas Pengampon), saat Beliau berjalan di dalam hutan, Beliau tersandung dan terjatuh karena kakinya terlilit atau terjerat oleh sebuah tanaman rambat yaitu sebuah tanaman Labuh siyem (walu batik), maka serta merta Beliau langsung berdo'a dan bermunajat degan khusyu memohon Ampunan kepada Allah SWT sambil Beliau berucap di mana saat Beliau terjatuh dan kakinya terlilit Labuh siyem, Beliau terus Memohon AmpunanNya, kemudian Beliau berucap "Kelak di kemudian hari daerah ini akan di kenal dengan nama tanah Pengampon (Tanah Pengampun). Tanah di mana saat beliau terjatuh dan terlilit oleh tanaman Labuh siyem ini yang hanya berdiameter sebesar ukuran Setampi atau Setampa (bahasa jawa Tebok) yaitu selebar alat untuk memilah/menampi beras. Maka dari itu Konon, "Anak Putu" (anak cucu) Beliau pantangan atau larangan menanam buah Labuh siyem dan memakan kerupuk kulit kerbau. Kemudian Beliau mewujudkan ucapanya, Beliau lalu Totor Alas atau Babad Alas untuk bermukim dan tinggal di tanah Pengampon. Setelah sekian lama, daerah Pengampon (sekarang Desa Danawinangun) sudah menjadi sebuah pemukiman yang terus di datangi orang-orang yang ingin tinggal dan bermukim bersàma Beliau. Tempat tinggal beliau masa itu adalah yang sekarang menjadi balai desa Danawinangun. Seiring berjalannya waktu tempat tinggal beliau di jadikan pusat pemerintahan, maka agar anak cucu beliau tidak mengganggu pusat pemerintahan pada masa itu maka oleh masyarakat Pengampon di bangunlah sebuah Pendopo untuk menyimpan benda-benda pusaka peninggalan Beliau yang hingga kini menjadi Pendopo Buyut Pengampon Nyi Endang Geulis untuk anak cucunya kelak bagi yang ingin berziarah.

Kemudian Beliau juga sempat membangun Langgar Agung (masjid) tempat Beliau untuk berBibbah, yang sekarang menjadi Masjid Jami AL ISTIQOMAH Danawinangun. Dengan kedatangan para penduduk yang berdomisili dan menetap selamanya di tanah Pengampon, yang pastinya para penduduk secara turun temurun mengetahui cerita asal usul tanah Pengampon yang sekarang menjadi sebuah Desa di kecamatan Klangenan. Tanah Asli Pengampon (setampi) sekarang sampai saat ini keberadaanya masih ada, yaitu konon yang berada di lokasi sebelah Utara Masjid Al- Istiqomah desa Danawinangun yg sudah pasti berkaitan degan Nyi Endang Geulis saat Beliau terjatuh, maka ada sebuah tradisi yg berkembang untuk mengingat Beliau di tanah Pengampon, di mana para penduduk yang sekarang mereka tempati, yaitu sebuah tradisi menyuguh atau menyajikan tanah liat kering yg di olah dan bikin secara khusus yakni yang bernama tanah "Ampo" yang bisa di makan dan baunya wangi, merupakan sebagai simbol permohonan ampun dan keselamatn kepada Allah SWT dalam setiap acara hajatan dan acara2 lainya.

Cara pembuatan tanah liat kering yang kemudian di sebut Ampo ini melalui proses yang panjang, dan sekarang sudah jarang di jumpai dan jarang yang membuatnya, tapi masih ada beberapa orang yang masih bisa membikin Ampo ini yaitu di daerah blok Tegalan desa Sitiwinangun. Dan juga, untuk mengenang jasa jasa Beliau, masyarakat desa Danawinangun setiap tanggal 17 Mulud (bulan jawa) selalu diadakan Khaul Ngunjung Buyut Nyi Endang Geulis dalam Acara Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dengan do'a bersama, Tahlil dan Tawasulan yang merupakan Tradisi tiap tahun selalu di adakan oleh masyarakat desa Danawinangun juga masyarakat blok Tegalan. Tradisi Adat Budaya yang sudah kita kenal ini adalah " Mider Buyut" yaitu Mengarak keliling sebuah Pusaka Peninggalan Beliau berupa Tombak di mulai pada malam hari hingga menjelang subuh mengelilingi semua daerah wilayah kekuasaan Beliau pada masa itu...
br/> Wallohu'aklam bishowab... Pangapunten'e lan Maturkesuwun...

zhons

Sejarah desa jemaras cirebon

SEJARAH DESA JEMARAS CIREBON

ada zaman dahulu kala, yaitu sejak perkembangan agama Islam yang disiarkan oleh para wali di tanah Jawa (Wali Sanga), di hutan sebelah barat wilayah kerajaan/kesultanan Cirebon, Mbah Kuwu Cakrabuana dengan puterinya yang keempat yaitu Nyi Gede Jemaras mengadakan toto alas (babad hutan) untuk membuat pedukuhan atau desa. Setelah banyak pepohonan yang tumbang kemudian dibakar. Abu dari pembakaran pepohonan tersebut tertiup angin kesana kemari, kemudian diteliti sampai dimana abu itu berada, itulah yang menjadi batas wilayah pedukuhan tersebut. Begitulah peraturan adat zaman dahulu untuk menentukan batas-batas pedukuhan.

Mbah Kuwu Cakrabuana adalah seorang putera Prabu Siliwangi dari Kerajaan Pajajaran, yang semula bernama Raden Walangsungsang. Pergi mengembara untuk menuntut ilmu agama Islam. Beliau berguru agama Islam kepada Syekh Nurjati di Gunung Jati. Setelah dianggap mapan dalam menerima ilmu agama Islam, gurunya memberikan nama Somadullah dan diperintahkan untuk menunaikan ibadah haji ke Mekah, kemudian mendapat julukan Haji Abdul Iman seusai menunaikan ibadah haji.

Sepulangnya menunaikan ibadah haji singgah dulu di Negeri Campa untuk berguru kepada Maulana Akbar Ibrahim yang dikenal dengan sebutan Pandita Mutakim. H. Abdul Iman dijadikan menantu oleh Pandita Mustakim dijodohkan dengan puterinya yang bernama Nyi Rasa Jati. Dari pernikahannya mendapat 7 (tujuh) orang puteri yaitu :

1. Nyi Lara Konda, di Alas Konde Gunung Jati
2. Nyi Lara Sejati, di Gunung Jati 3. Nyi Jati Merta, di Desa Jati Merta
4. Nyi Jemaras, di Desa Jemaras (Desa Jemaras Kidul)
5. Nyi Mertasinga, di Desa Mertasinga
6. Nyi Cempa, di Desa Dukuh, Karang Kendal
7. Nyi Rasamalasih, di Blok Sembung Astana Gunung Jati

Dengan demikian nama Desa Jemaras adalah nama asli Nyi Gede Jemaras sendiri yang diabadikan sebagai nama desa. Pada tanggal 21 April 1983 Desa Jemaras dimekarkan menjadi 2 desa, yaitu Desa Jemaras Kidul meliputi blok Kendron, blok Cangkuang, blok Pandi, blok Sigaga, blok Kebonan, blok Desa dan blok Penjalinan (sebagian). Desa Jemaras Lor meliputi blok Penjalinan, blok Kejuden, blok Jlengut Wetan, blok Siduwet, blok Karang Sumpit dan blok Karang Dalem. Walaupun sudah ada pemekaran desa yaitu Desa Jemaras Kidul dan Desa Jemaras Lor, rakyat Desa Jemaras tetap bersatu dalam hal pembangunan desa, bidang pertanian, perdagangan (kerajinan rakyat, pandai besi) dan sebagainya.

Nyi Jemaras adalah puteri Mbah Kuwu Cakrabuana yang sangat dikasihi dan dicintai ayahandanya. Ketika Mbah Kuwu bercocok tanam, menanam padi di daerah Jungjang, beliau bermukim di Desa Slangit memelihara kerbau, yang menjadi pengembalanya ialah Ki Gede Langgen, kandangnya berada di Slangit, tempat guyang kerbau (memandikan kerbau) di blok Pengguyangan (di sungai pengguyangan Jemaras), weluku (bajak)nya disimpan di blok Kendron.

Dahulu Desa Jemaras terkenal ada pesantren yang dipimpin oleh guru besar agama Islam Ki Buyut Santri Wiraguna (Ki Madulah) berasal dari Demak.

Tokoh masyarakat yang ada di Desa Jemaras Kidul adalah : - Buyut Nyi Gede Jemaras - Buyut Santri Wiraguna (Ki Madulah)
- Buyut Jeneng. - Buyut Ngabei Wirasasmita. - Buyut Judipati (Ki Kandim), Buyut Rebe’,Buyut Segara, Buyut Kendru, Buyut Mataram. - Buyut Ki Barep, Buyut Kencong - Buyut Pande’ (Buyut Ki Bekila) Putera Pangeran Kejaksan - Buyut Jembangan, Buyut Ipik, Buyut Murti (Sigaga)

Yang ada di Desa Jemaras Lor ada 4 (empat) yaitu : - Buyut Jaben (Jlengut) - Buyut Kejuden (menantu) dari Buyut Ki Judipati (Ki Kandim) asal dari Desa Kejuden Plumbon. - Ki Buyut Santri - Ki Patra Adapun Ki Judipati (Ki Kandim) sendiri berasal dari Demak kerabat Ki Buyut Santri Wiraguna.

Nyi Gede Jemaras bersuamikan Adipati Keling asal dari India. Adipati Keling diberi tugas memimpin pasukan/prajurit Kasultanan Cirebon (Keraton Pakungwati) untuk mempertahankan kerajaan Islam di Cirebon

Jeneng : nama pangkat (jabatan) kepala desa/kuwu. Ngabei : nama pangkat (jabatan) perangkat desa yang bertugas ganda Judipati : nama pangkat (jabatan) yang bertugas mengadili (menghakimi) suatu perkara

kejahatan (kriminal) dari serbuan prajurit Rajagaluh dan Telaga yang bermaksud menghancurkan Keraton Pakungwati Cirebon. Adipati Keling dibantu oleh Syekh Magelung Sakti, Nyi Mas Gandasari, Adipati Arya Kemuning, Pangeran Carbon dan lain-lain. Sebagai penasehat perang dan pengayom adalah Pangeran Cakrabuana sendiri.

Dengan izin Allah SWT kemenangan ada di pihak kerajaan Pakungwati Cirebon dan semua musuh takluk dan memeluk agama Islam.

Nyi Gede Jemaras memiliki nama lain yaitu :
- Ratu Ayu Nyi Mas Buyut Ranglang Sari
- Ratu Ayu Nyi Mas Buyut Marta Sari
- Ratu Ayu Nyi Mas Buyut Sambeng
- Ratu Ayu Nyi Mas Buyut Resmi
- Ratu Ayu Nyi Mas Buyut Nyi Gede Jemaras, dan lain-lain.

Buyut Nyi Gede Jemaras punya tanah bantar seluas “ambene sakukuban payung” artinya selebar payung, warnanya putih, tidak ditumbuhi rumput, kadang kelihatan kadang tidak kelihatan dan berpindah-pindah. Tanah tersebut tempat musyawarah antara Mbah Kuwu Cirebon dengan puterinya sendiri (Nyi Gede Jemaras). Apabila sedang berada dalam lingkaran tanah putih tersebut bila turun hujan, maka tidak basah kena air hujan. Sekarang tanah putih tersebut sudah tidak kelihatan lagi.

Selain tanah bantar, dahulu Buyut Nyi Gede Jemaras mempunyai tanah yang lain, yang berada di luar Desa Jemaras yaitu Tanah Teluk Dermayu disebut Pulo Klaras, Tanah Sumur Cere di daerah Eretan Indramayu, Tanah Cimalaka di daerah Sumedang, Tanah Sentigi di daerah Cilegi Indramayu, Tanah Jemaras sebelah utara Cileunyi Bandung. Tanah-tanah tersebut luasnya bervariasi dan masih hutan belukar yang konon masih angker, sampai sekarang tidak ada yang berani mengolah tanah-tanah tersebut.

Tanah-tanah tersebut diatas tidak tercantum dalam buku Model C Desa Jemaras. Ini hanya ceritera zaman dahulu, jasa peninggalan buat anak cucu Buyut Nyi Gede Jemaras saja. Adapun adat desa di Desa Jemaras ialah :

- Sedekah Bumi
Mapag Sri 1 x setiap tahun - Ngunjung Buyut 1 x setiap tahun sedangkan larangan /tabu bagi masyarakat Desa Jemaras ialah :

- Dilarang menanam padi merah, ketan hitam - Dilarang tanam labu merah, emes oyong Larangan tersebut dijaga dan dipatuhi oleh seluruh rakyat Desa Jemaras baik Desa Jemaras Kidul maupun Desa Jemaras Lor.

Menurut ceritera berdirinya pedukuhan/Desa Jemaras dan Masjid Desa Jemaras yaitu pada bulan Rajab tahun Alif ± tahun 1476 Masehi’

dapun nama-nama Kuwu Jemaras Kidul yang diketahui; yaitu:

1. Kuwu Marta : 1874 – 1904
2. Kuwu Munari : 1904 – 1906
3. Kuwu Ta’wi : 1906 – 1908
4. Kuwu Markab : 1908 – 1923
5. Kuwu Sastra Sujana : 1923 – 1945
6. Kuwu Bajuri : 1945 – 1946
7. Kuwu Salamun : 1946 – 1951
8. Kuwu Sidik : 1951 – 1958
9. Kuwu Suleman : 1958 – 1960

Tahun Alif adalah diantara nama tahun dalam sewindu (8 tahun); yaitu Alif, He, Jim Awal, Je, Dal, Be, Wawo, Jim Akir

10. Kuwu Resmita : 1960 – 1961
11. Kuwu Suparta : 1961 – 1965
12. Pejabat sementara Abu Bakar : 1965 – 1967
13. Kuwu Mira : 1967 – 1983
14. PJS. Taswin : 1983 – 1986
15. Kuwu Sukarjo : 1986 – 1994
16. PJS Nono Sutrisno : 1994 – 1995
17. Kuwu Ayo Sunaryo : 1995 – 2003
9⁹ 18. Kuwu AA Robandi : 2005 - sampai sekarang.
Nama-nama Kuwu Jemaras Lor; yaitu : 1. Kuwu Mir : 1983 – 1985
2. Sudila : 1985 – 1993
3. Sarmadi : 1993 – 2001
4. Sataria PJS : 2001 – 2002
5. Ato Rasmita : 2002 - sampai sekarang

Tanggal 21 April 1983 pemekaran Desa Jemaras Kidul dan Desa Jemaras Lor. #SejarahCirebon
zhons

Suku bangsa cirebon

SUKU BANGSA CIREBON

Suku Cirebon adalah perpaduan antara 2 suku besar yaitu Suku Jawa dan Suku Sunda akulturasi ke 2 suku tersebut melahirkan suku yang mandiri yaitu Suku Cirebon Sejak dahulu hingga sekarang Suku Cirebon adalah suku yang berbeda dari Jawa dan Suku Sunda hal itu terlihat dari jejak sejarah yang termuat dan terungkap dalam kitab Purwaka Caruban Nagari.

nama Cirebon berasal dari kata Sarumban yang jika di ucapkan maka menjadi Caruban seiring perkembangan Caruban berubah menjadi Carbon..Cerbon dan akhirnya menjadi Cirebon Sarumban memiliki arti Campuran maka Cirebon berarti campuran. Orang atau etnis Cirebon atau Suku Bangsa Cirebon adalah kelompok etnis yang tersebar di sekitar Kota Cirebon dan Kabupaten Cirebon,Kabupaten Indramayu,Kabupaten Majalengka sebelah utara atau biasa di sebut sebagai wilayah "Pakaleran",Kabupaten Kuningan sebelah utara, Kabupaten Subang sebelah utara mulai dari Blanakan Pamanukan hingga Pusakanagara dan sebagian pesisir utara Kabupaten Karawang mulai dari pesisir Pedes hingga Cilamaya di provinsi Jawa Barat dan di sekitar Kecamatan Losari Kabupaten Brebes jawa tengah Berjumlah sekitar 1,9 juta

Masyarakat suku cirebon memeluk agama islam,bahasa yang di tuturkan oleh orang Cirebon adalah gabungan dari bahasa Jawa,Sunda,Arab,China yang mereka sebut sebagai Bahasa Cirebon Mereka juga memiliki dialek Sunda tersendiri yang di sebut Bahasa Sunda Cirebon Pada mulanya keberadaan etnis atau orang Cirebon selalu di kaitkan dengan keberadaan Suku Sunda dan Jawa namun kemudian eksistensinya mengarah pada pembentukan budaya tersendiri mulai dari ragam batik pesisir yang tidak terlalu mengikuti pakem Keraton Jawa atau biasa di sebut batik pedalaman

Hingga timbulnya tradisi tradisi bercorak islam sesuai dengan di bangun nya Keraton Cirebon pada abad ke 15 yang berlandaskan islam 100%. Eksistensi dari keberadaan suku atau orang cirebon yang menyebut dirinya bukan suku sunda atau pun suku jawa akhirnya mendapat jawaban dari Sensus penduduk tahun 2010 di mana pada sensus penduduk tersebut tersedia kolom khusus bagi Suku Bangsa Cirebon. Hal ini berarti keberadaan Suku Bangsa Cirebon telah di akui secara Nasional sebagai sebuah suku tersendiri Indikator itu (Suku Bangsa Cirebon) dilihat dari bahasa daerah yang digunakan warga Cirebon tidak sama seperti bahasa Jawa atau Sunda. Masyarakat Cirebon juga punya identitas khusus yang membuat mereka merasa sebagai suku bangsa sendiri. Penunjuk lainnya yang mencirikan seseorang sebagai suku bangsa Cirebon adalah dari nama-namanya yang tidak seperti orang Jawa ataupun Sunda. Namun, belum ada penelitian lebih lanjut yang bisa menjelaskan tentang karakteristik identik tentang suku bangsa Cirebon. Untuk menelusuri kesukuan seseorang, hal itu bisa dilakukan dengan garis keturunan ayah kandungnya. Selain itu, jika orang itu sudah merasa memiliki jiwa dan spirit daerah itu (daerah Suku Bangsa Cirebon) maka dia berhak merasa sebagai suku yang dimaksud. Keunikan Bahasa Cirebon. Bahasa Cirebon yang unik ini dikarenakan daerah Cirebon yang berbatasan langsung dengan kebudayaan Sunda, khususnya sunda Kuningan dan sunda Majalengka. Selain itu juga karena dipengaruhi oleh budaya China, Arab, dan Eropa. Semua itu terbukti dengan adanya kata ‘Taocang” yang merupakan serapan bahasa China yang berarti kuncir, kata “Bakda” yang merupakan serapan bahasa arab yang berarti setelah, kata “Sonder” dari bahasa Eropa yang berarti tanpa. Bahasa Cirebon juga mempertahankan bentuk-bentuk bahasa kuno Jawa, misalnya “isun” yang berarti saya, kata “sira” yang berarti kamu. Semua bahasa tadi sudah tidak digunakan lagi oleh Jawa baku.

keunikan Cirebon yang lain adalah kesenian dan kerajinannya yang berlimpah. Kesenian dan kerajinan itu diantaranya kesenian tari Topeng, Sintren, Batik, Kesenian Gembyung, Lukisan kaca, Topeng Cirebon, dan Sandiwara Cirebonan. Salah satu kerajinan Cirebon yang memiliki khas yang terkenal adalah dengan motif Mega Mendung
zhons

Citros bus pariwisata



Citros bus pariwisata Cirebon

Buat masyarakat Cirebon dan para wisatawan yang berkunjung, ada kabar yang sangat menggembirakan. Sekarang, sudah bisa merasakan keliling tempat wisata dengan menggunakan transportasi yang bernama bus Citros atau kepanjangan dari Cirebon Tourism on Bus. Traveling makin mudah di Cirebon.

bus Wisata Citros dengan kapasitas untuk 20 penumpang tersebut rencananya akan dilengkapi dengan mini bar dan mini distro, oleh-oleh khas Cirebon, serta akan dipandu oleh guide.

“Karena bus wisata ini juga dilengkapi dengan sound system untuk menjelaskan tempat yang dilewati , seperti halnya busway transhakarta,

“BUS PARIWISATA khas Cirebon sudah mulai beroperasi melayani titik2 wisata termasuk Keraton Kasepuhan dan kuliner nyam nyam khas Cirebon. Akan hadir di 27 kota/kab se Jabar, Bagian dari kinerja nyata membangun Jawa Barat melalui lokomotif ekonomi Pariwisata. #JabarJuara” dilansir Travelingyuk dari cuitan Ridwan Kamil pada Minggu (24/2/2019).
zhons

Lawang Trusmi malioboro cirebon

Kota Cirebon, adalah salah satu kota yang berada di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Kota ini berada di pesisir utara Pulau Jawa atau yang dikenal dengan jalur pantura yang menghubungkan Jakarta-Cirebon-Semarang-Surabaya.

Cirebon memiliki sebuah terminal bus harjamukti jika anda posisi dari terminal bus  harjamukti menuju kearah bandung aatau jakarta akan melewati sebuah lawang trusmi pas bertepatan dengan lampu merah plered 

Lawang Trusmi menghubungkan ke arah sentral batik Trusmi 



KABUPATEN Cirebon kaya akan lokasi yang memiliki potensi menjadi destinasi wisata, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cirebon pun terus menggali dan mengembangkan potensi-potensi wilayah yang bisa dijadikan destinasi wisata tersebut.

Seperti di antaranya lokasi Lawang Trusmi yang ada di Desa Weru Lor, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon. Lokasi tersebut oleh pemda setempat, akan dijadikan destinasi wisata seperti di Yogyakarta, yakni Malioboro. Bahkan, grand desainnya pun sudah ada.

Rencana Pemkab Cirebon yang akan menjadikan lokasi tersebut sebagai Malioboronya Cirebon disambut baik oleh masyarakat setempat. Di antaranya oleh Karang Taruna Desa Weru Lor. Bahkan, untuk melakukan uji cobanya, mereka menghadirkan kesenian tradisional SINTREN DAN ANGKLUNG KHAS JAWA BARAT setiap malam Minggu. Acara di mulai pada sore hingga malam 17:00-21:00

zhons

Ider ideran karang mas jamblang cirebon 2018

Cirebon di bilang tidak banyak mempunyai tradisi ada juga yang bilang cirebon memiliki banyak tradisi maupun budaya Terutama pada bulan dan tahun ini memyelenggarakan tradisi arak arakan atau ider Ideran [karnaval], pada minggu minggu yang lalu di salah satu daerah gunung jati cirebon juga menyelenggarakan acara karnaval (NADRAN) pada tanggal oktober 2018 lalu, kemudian di daerah trusmi plered pun demikian pada tanggal 14 oktober 2018 lalu di adakan acara memayu buyut trusmi.

untuk hari minggu ini tanggal 28 oktober 2018 kita mesti tahu di daerah mana saja kota cirebon memiliki tradisi acara tahunan arak arakan

Sebelum yang sudah sudah di selenggarakan pada minggu minggu yang lalu di daerah gunung jati , trusmi , sekarang nyusul di daerah JAMBLANG CIREBON

penasaran ingin menyaksikan ider-ideran (karnaval) Ngunjung Buyut Nyi Mas Ratu Gandasari.

Karnaval yang menampilkan replika situs Nyi Mas Ratu Gandasari di Kampung Pecung/Karang Mas, Desa Kasugengan Kidul, Kecamatan Depok, Kabupaten Cirebon itu hingga sekarang masih dilestarikan warga Kesugengan Kidul, Kesugengan Lor dan sekitarnya. Pada kesempatan tersebut juga ditampilkan berbagai replika hasil kreativitas warga setempat berupa karya imajinatif seperti berbagai kereta kencana, burung garuda dan aneka satwa lainnya, kapal besar, dan tampilan teatrikal yang mengundang tawa.

Guna mengamankan rute karnaval dari kompleks situs Nyi Mas Ratu Gandasari di Kampung Pecung-Kasugengan Kidul-Kasugengan Lor-Pasar Jamblang dan kembali ke kompleks situs, panitia ngunjung (khaul) memanfaatkan beberapa kelompok "pasukan hitam" yang sekujur tubuhnya dibalur arang hitam dicampur minyak goreng hingga pengunjung ketakutan terkena noda hitam dan minggir dengan sendirinya masyarakat cirebon menamakan pasukan pengaman bertubuh hitam tersebut di namakan dayak.

Karnaval yang panjangnya mencapai sekitar empat 3 kilo meter itu masih mendapatkan apresiasi dari masyarakat berbagai desa di Kab. Cirebon, terutama di wilayah Kecamatan Depok, Plumbon, Jamblang, Klangenan, Palimanan, Weru, Plered, Dukuhpuntang , Sumber dan lainnya.

Ketika karnaval berlangsung, petugas dari jajaran Kepolisian Resort (Polres) Cirebon maupun Kepolisian Sektor (Polsek) Depok telah berusaha mengamankan arus lalu lintas Cirebon-Palimanan dengan tetap memanfaatkan jalur sebelah utara untuk lewat kendaraan, sementara yang digunakan untuk karnaval jalur sebelah selatan, namun, ketika iring-iringan peserta karnaval tersebut berakhir, kemacetan pun tetap terjadi. Beruntung petugas bisa segera memulihkan arus.

pada kesempatan itu pula saya turut menonton arak arakan di karang mas jamblang, Menurut Tarsiri salah seorang pedagang rujak uleg sebelah supermarket griya toserba jamblang, tarsiri seorang warga Kasugengan Kidul, Ngunjung. Buyut Nyi Mas Ratu Gandasari sudah berlangsung turun temurun yang digelar setiap setahun sekali. Selain merupakan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan, juga bisa menjadi ajang silaturrahmi antar warga.

dan ketika itu pula sempat pengambilan gambar dalam rangka ngunjung nyimas ratu ganda sari berikut gambar arak arakan









"Ini bisa dijadikan ajang silaturahmi antar warga, khususnya di Desa Kesugengan Kidul dan Kesugengan Lor. Ada sejumlah warga perantau yang lebaran tidak pulang kampung, justru saat ngunjung mereka pulang kampung," katanya. Sementara itu, Sekretaris Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olah Raga (Disbudparpora) Kabupaten Cirebon mengatakan, situs Karang Mas yang terdapat di Blok Pecung/Karang Mas Desa Kasugengan Kidul, Kecamatan Depok, persis di sisi timur tanggul sungai Jamblang.

Sesuai cerita yang berkembang di tengah masyarakat setempat, lanjut dia, di konpleks pekuburan tua yang dipagari kuta keliling terdapat sebuah bangunan permanen yang didalamnya terdapat sebuah kuburan yang diduga petilasan dari Nyi Ratu Mas Gandasari, salah seorang srikandi sekaligus tokoh penyebar agama Islam di Cirebon yang aslinya berasal dari Aceh yang hidup pada abad ke-15.
zhons

Asal muasal daerah Jamblang



Jamblang adalah nama buah yang dalam bahasa Cirebon duwet. Nama Jamblang kemudian dipakai untuk nama sebuah daerah, ditempat itu terdapat sebuah pasar bernama Jamblang. Nama Jamblang semula dipinggir sungai dan 

ditempat itu terdapat pohon jamblang yang sangat besar.  Nama tempat dengan nama jamblang mula-mula diucapkan oleh seorang pedagang dari negeri cina. Pada waktu itu lalu lintas manusia masih banyak menggunakan jalan sungai dengan naik perahu, kendaraan darat belum banyak dibuat orang, pedati dan dokar masih jarang. Para pedagang kebanyakan dari Cina, berlabuh dipelabuhan Celancang

meneruskan membawa baran gnya dengan perahu sampai ke pedalaman. Di pedalaman belum banyak nama-nama kampong, karenanya para pedagang yang hilir mudik melalui jalan sungai pada waktu itu menyebutkan daerah yang pernah didatanginya dengan mengenal pohon sebagai tanda.

Demikian pula seorang pedagang Cina bernama Baba Chong An, sering berdagang disebuah tempat yang terdapat sebuah pohon jamblang. Kemudian oleh penduduk ditempat itu dikenal dengan nama Jamblang. Karena barang dagangannya laku, sering pula bermalam ditempat itu kemudian dibuatnya sebuah tempat berdagang bersama bersama pula tempat tinggalnya. Baba Chong An berdagang disana membawa pula seorang anak gadisnya bernama Liong Sie Tin, lama kelamaan menjadi penghuni baru ditempat itu. Baba Chong An selain seorang pedagang ia adalah seorang pengagung klenteng. Karenanya ditempat itu ia bermaksud akan

mendirikan sebuah klenteng agar dapat bersembahyang baik untuk dirinya sendiri maupun bagi teman-teman pedagang yang sebangsa dan se-agama dengan dia. Berkat ketekunannya berdagang, ia berhasil membeli sebidang tanah untuk didirikannya sebuah klenteng.

Tersebutlah seorang pemuda bernama Raden Banjar Patoman berasal dari Banjar bermaksud akan berguru kepada Sunan Gunung Jati di Cirebon. Dalam perjalanannya menuju Cirebon, melewati Jamblang. Karena dilihatnya ditempat itu lebih ramai dari tempat-tempat lain, ia sengaja ingin melihat-lihat disana.

Ketika mendekati tempat Baba Chong An, ia mengetahui Liong Sie Tin sedang menunggui dagangan. Raden Banjar Patoman sempat berkenalan dengan Liong Sie Tin. Dalam perkenalannya tiba-tiba menjadi sangat akrabnya, seperti telah lama berkenalan. Ketika Raden Banjar Patoman minta diri untuk meneruskan perjalanannya, Liong Sie Tin menggodanya. Ia menyatakan ingin ikut ke Cirebon, ingin mengetahui keadaan di Cirebon.

Raden Banjar Patoman berterus terang kepada Liong Sie Tin, bahwa ia ingin pergi bersama. Tetapi karena perginya ke Cirebon bermaksud akan berguru agama Islam, ia tidak berani mengajaknya dan hanya berjanji bahwa setelah menyelesaikan belajarnya ia akan segera dating kembali. Dikatakannya pula dengan berterus terang, ia akan kembali berkunjung, karena hatinya telah mencintai Liong Sie Tin. Liong Sie Tin tidak menjawabnya hanya memandang tajam dan memegangi tangan Raden Banjar Patoman menjadi semakin erat dan tidak mau melepaskannya pergi, namun akhirnya hanya mengumpat dengan berkata perlahan hamper tidak terdengar. Perlahan-lahan dilepaskannya tangan Raden Banjar Patoman, namun terhadapnya penuh menyampaikan perasaan cintanya yang memikat. Raden Banjar Patoman terasa berat melangkahkan kakinya, akan meninggalkan kekasihnya yang baru didapatnya. Namun hatinya segera dikuatkan dengan keinginannya berguru, berjalanlah perlahan-lahan meninggalkan tempat itu diiringkan sepasang mata yang terus memandanginya.

Di Cirebon Sunan Gunung Jati setelah mengadakan musyawarah Wali Sanga digunung Ciremai, segera mengundang Sunan Rangga. Sunan Rangga adalah sebutan kepada Ki Kuwu Cakrabuana, dimintakan agar segera dapat mengumpulkan kayu jati yang akan digunakan untuk membangun Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon. Sunan Rangga setelah mendengar peintah tersebut segera berunding dengan Sunan Kalijaga perihal kayu jati yang akan diambilnya. Sunan Rangga menjelaskan adanya kayu-kayu harus dikumpulkannya, bahwa kayu itu akan diambil dari Alas Jati Si Gentong. Seorang bernama Nyi Rara Denok yang memiliki Alas Jati Si Gentong berkenan menyumbangkan kayu yang bernama Si Topeng yang berada disebuah pulau kecil bernama pulau Rancang, sekarang Pulau Rancang adalah sebuah dusun di Desa Gegesik Kulon Kecamatan Gegesik.

Di Puser Bhumi, Sunan Gunung Jati tengah menghadapi seorang pemuda bernama Raden Banjar Patoman yang meminta diajar agama Islam. Sunan Gunung Jati menerima permintaannya, diperintahkan agar bersabar menunggu sampai Sunan Kalijaga telah kembali dari pekerjaan penebangan kayu jati untuk pembangunan masjid Agung Cirebon. Banjar Patoman merasa, dengan dikatakannya oleh Sunan Gunung Jati tentang suatu pekerjaan yang sedang dilakukan, merasa dirinya sebagai murid alangkah baiknya kalau ia dapat membantunya. Bersembahlah Raden Banjar Patoman dihadapan Sunan Gunung Jati dan memohon dengan segala kerendahan hatinya untuk ikut bekerja dalam mengumpulkan kayu-kayu jati itu. Sunan Gunung Jati memahami permintaan Raden Banjar Patoman, maka diperintahkan Raden Banjar Patoman untuk bergabung dengan Sunan Rangga dan Sunan Kalijaga beserta penebang lainnya yang telah berada di Pulo Rancang.

Ketika itu pula Baba Chong An melaksanakan pembangunan Klenteng, yang sekarang dikenal dengan nama Klenteng Jamblang. Akan tetapi dalam pembangunan Klenteng tersebut kekurangan kayu untuk bubungan. Menurut ceritera bahwa bubungan Klenteng Jamblang adalah kayu jati Si Gentong dari Pulo Rancang bantuan dari Raden Banjar Patoman, tentunya atas seijin Sunan Gunung Jati. Setelah Klenteng Jamblang berdiri, kemudian Raden Banjar Patoman diterima menjadi tunangan Liong Sie Tin.

Dan pada waktu itu orang-orang dari Cina banyak yang datang didaerah Jamblang, orang-orang dari daerah Jamblangpun tidak kalah dengan orang-orang Cina untuk berdagang yaitu jualan nasi yang dibungkus dengan daun jati, itu cirri khas dari Jamblang dan sampai sekarang nasi Jamblang sebagai makanan khas daerah Cirebon.
zhons

Asal usul desa babakan cirebon



Ki Gede Lamah Abang dari Indramayu yang terkenal dengan kesaktiannya, sedang memanggul pohon jati yang sangat besar dari daerah Gunung Galunggung untuk membantu pendirian masjid di Cirebon. Di tengah perjalanan ia dihadang seekor macan putih yang langsung menyerangnya untuk merebut pohon jati dari panggulannya.Melihat seekor macan putih yang ingin merebut pohon jati dari panggulannya, Ki Gede Lemahabang tidak tinggal diam. Dengan sekuat tenaga ia mempertahankan jati yang dipanggulnya itu jangan sampai berpindah tangan.

Terjadilah perebutan pohon jati antara Ki Gede Lemahabang dengan seekor macan putih yang sebenarnya adalah jelmaan Ki Kuwu Cerbon. Tujuan Ki Kuwu menghadang perjalanan Ki Gede Lemahabang, agar pohon jati tersebut jangan terlalu cepat sampai ke Cirebon. Jika hal itu terjadi, maka ilmu kewalian harus diajarkan kepada para santri yang belum memenuhi syarat untuk menerima ilmu tersebut.

Perebutan pohon jati itu membuat suasana di tempat itu sangat mengerikan. Kedua makhluk itu saling mengeluarkan ilmu kesaktian, sehingga menimbulkan prahara dan di sekelilingnya banyak pohon yang tumbang. Pepohonan yang tumbang itu seperti terbabak benda tajam. Daerah tempat terjadinya peristiwa itu kemudian dijadikan nama sebuah pedukuhan Babakan.

Waktu terus berlalu, rupanya kesaktian Ki Gede Lemahabang berada di bawah kesaktian Ki Kuwu Cerbon yang berwujud macan putih. Dia tidak sanggup lagi mempertahankan apa yang di panggulnya. Pohon jati itu hilang dalam panggulannya, bersamaan dengan hilangnya macan putih yang menghalang-halangi perjalanannya.

Kini pedukuhan Babakan telah berubah menjadi Desa Babakan dalam wilayah Kecamatan Ciwaringin. Desa Babakan terletak di ujung sebelah barat, merupakan daerah perbatasan Kabupaten Cirebon dengan Kabupaten Majalengka. Menginjak tahun 1705, seorang pengembara yang selalu menyebarkan agama Islam bernama Syekh Hasanudin bin Abdul Latif berasal dari Kajen Kecamatan Plumbon Kabupaten Cirebon datang di pedukuhan Babakan. Di Pedukuhan Babakan Syekh Hasanudin membangun sebuah mushala kecil. Di depan mushalahnya ada dua pohon jati yang sangat besar. Untuk kehidupan sehari-harinya Syekh Hasanudin bertanam palawija di sekitar tempat itu. Dalam menyiarkan agama Islam, Syekh Hasanudin banyak mendapat rintangan, ejekan, cercaan, dan tantangan dari beberapa daerah di sekitarnya seperti dari Desa Budur, Pedukuhan Jati Gentong, Pedukuhan Tangkil yang ada di bawah kekuasaan Ki Gede Brajanata yang tidak mau masuk Islam. Tantangan tersebut bahkan datang dari Pedukuhan Babakan itu sendiri, namun semua rintangan itu tidak menyurutkan tekad Syekh Hasanudin menyebarkan agama Islam.

Pada usianya yang telah tua, Ki Gede Brajanata meninggal dunia. Sepeninggal Ki Gede Brajanata, penyebaran agama Islam yang dilakukan Syekh Hasanudin mengalami kemajuan. Telah banyak masyarakat yang mau memeluk agama Islam dan memperdalam ilmu syariat Islam. Walau masih banyak pengikut-pengikut Ki Gede Brajanata yang terus menentangnya tidak menjadi pengahalang yang berarti bagi Syekh Hasanudin untuknterus berjuang. Mushala yang kecil itu sudah tidak bisa lagi menampung orang-orang yang ingin belajar ilmu. Para santri bersepakat untuk membangun lagi mushala yang lebih besar.

Pada saat membangun mushala itulah para santri memberi julukan kepada Syekh Hasanudin sebagai gurunya dengan panggilan Ki Jatira, karena kebiasaan gurunya itu beristirahat di depan mushala di bawah dua pohon jati yang besar. Jati = pohon jati, dan ra = loro (dua).

Nama Ki Jatira menjadi terkenal sampai ke pusat ajaran Islam yang ada di Amparanjati, Gunung Sembung. Begitu pula nama Ki Jatira yang mengajarkan ilmu agama Islam dan ilmu kanuragan terdengar oleh pihak Belanda, yang dianggapanya akan membahayakan kekuasaanya di Cirebon.

Pada tahun 1718, serdadu belanda datang dan menyerang padepokan Ki Jatira di Pedukuhan Babakan. Serangan itu mendapat perlawanan yang sengit dari para santri. Karena peperangan itu tidak seimbang, akhirnya para santri dapat dikalahkan dan padepokan Ki Jatira dihancurkan dibakar habis. Peristiwa itu dikenal dengan nama Perang Ki Jatira, yang banyak mengorbankan para santri, tewas sebagai syuhada. Ki Jatira sendiri dapat diselamatkan oleh muridnya dan dibawa ke Desa Kajen.

Pada tahun 1721, Ki Jatira datang lagi ke pedukuhan Babakan untuk meneruskan syiar Islamnya. Kedatangannya itu disambut gembira oleh masyarakat, kemudian tahun 1722 Ki Jatira bersama-sama masyarakat membangun kembali padepokan yang telah hancur itu. Tempatnya dipindahkan ± 400 m ke sebelah selatan dari padepokan yang lama.

Ketenaran dan keharuman nama Ki Jatira yang mengajarkan ilmu agama Islam dan ilmu kanuragan, tercium lagi oleh Belanda. Pada tahun 1751 serdadu Belanda kembali menyerang padepokan Ki Jatira. Akan tetapi sebelumnya, rencana Belanda tersebut sudah di ketahui oleh Ki Jatira. Sehingga sebelum penjajah itu datang untuk menyerang padepokan, terlebih dahulu Ki Jatira membubarkan para santrinya dan Ki Jatira sendiri mengungsi ke Desa Kajen, menunggu situasi aman. Setibanya para serdadu Belanda di padepokan Ki Jatira telah kosong tidak ada penghuninya. Untuk kedua kalinya padepokan Ki Jatira dibakar oleh serdadu Belanda.

Dalam pengungsiannya, Ki Jatira terserang penyakit pada usianya yang telah uzur. Pada waktu sakit, beliau berpesan kepada keponakannya yang sekaligus menantunya bernama Nawawi untuk datang ke Pedukuhan Babakan meneruskan perjuangannya. Pada tahun 1753 Ki Jatira wafat dan dimakamkan di Desa kelahirannya sendiri yaitu Desa Kajen Kecamatan Plumbon. Tahun 1756, Ki Nawawi membangun sebuah mushala panggung yang sangat besar, bentuknya menyerupai masjid. Jaraknya ± 300 m ke arah selatan dari padepokan Ki Jatira yang kedua.

Tahun 1810, pada periode cucu Ki Nawawi bernama Ki Ismail, para santri mulai membangun tempatnya masing-masing yang dikenal dengan nama Pondokgede. Ki Ismail wafat tahun 1916, pengasuh Pondokgede diteruskan oleh keponakannya yang juga menantunya bernama Kiai Muhamad Amin bin Irsyad, yang dikenal dengan sebutan Ki Amin Sepuh berasal dari Desa Mijahan Kecamatan Plumbon. Pada masa itu Pondokgede mencapai masa keemasan. Mushala yang dibangun Ki Nawawi pada tahun 1769 resmi dijadikan masjid. Pondokgede akhirnya dikenal dengan nama Pondok Pesantren Raudlatultholibin.

Tahun 1952, pada masa agresi Belanda ke-2, Pondokgede saat diasuh Ki Amin Sepuh diserang kembali oleh Belanda. Kitab suci dan kitab-kitab lain diobrak-abrik serta dibakar. Para santri bersama Ki Amin Sepuh dan seluruh keluarganya mengungsi.

Dua tahun kemudian yaitu tahun 1954, Kiai Sanusi salah seorang santri Ki Amin Sepuh datang ke Pondokgede dan menata kembali bangunan dan sisa-sisa kitab yang dibakar, sehingga bangunan dan halaman Nampak rapih kembali, tahun 1955 Ki Amin Sepuh datang kembali ke Pondokgede diikuti oleh para santrinya untuk melanjutkan pembelajaran agama Islam, sampai wafatnya pada tahun 1972.

Setelah wafatnya Ki Sanusi pada tahun 1986, pengasuh pondok dilanjutkan oleh Ki H. Fuad Amin sampai tahun 1997. Dilanjutkan oleh K.H. Abdullah Amin sampai tahun 1999. Ki Bisri Amin mengasuh pondok hanya setahun yaitu dari tahun 1999 – 2000. Kini Pondok Pesantren di asuh oleh K.H. Azhari Amin dan K.H. Zuhri Affif Amin, keduanya adalah putra K.H. Amin Sepuh. Beliau berdua bekerja keras untuk meningkatkan pendidikan agama Islam, juga pendidikan umum lainnya diterapkan kepada para santrinya untuk bekal hidupnya di dunia dan akhirat.

Semula Babakan hanya daerah pedukuhan yang merupakan cantilan dari Desa Budur. Atas kehendak masyarakat, pada tahun 1773 memisahkan diri dari Desa Budur menjadi desa yang mandiri, yaitu Desa Babakan. Kuwu yang pertama adalah Surmi dari tahun 1798 – 1830.
zhons

NAMA SITUS DI KABUPATEN CIREBON

NAMA SITUS DI KABUPATEN CIREBON

DATA LENGKAP SITUS TIAP KECAMATAN SE-KABUPATEN CIREBON

I. KECAMATAN ARJAWINANGUN
1. KI KUMADI (KI GEDE BULAK) Ds. BULAK
2. SITUS NYI RATU Ds. GAYONGAN
3. KI WASIAT Ds. JUNJANG
4. KI RUNCUM Ds.
ARJAWINANGUN
5. KI GEDE SUROPATI Ds. RAWAGATEL
6. SUMUR KI JAKATAWA Ds. TEGAL GUBUG
7. KI GEDE JAPULA KIDUL Ds. JAPURA KIDUL
8. BALONG KRAMAT Ds. JAPURA KIDUL

II. KECAMTAN BABAKAN
1. SITUS BUYUT CICURI Ds. BABAKAN
2. LINGGA YONI Ds. DOMPYONG <
br> 3. BUYUT JAKA BODOH Ds. KARANGWANGUN
4. SUMUR KERAMAT DALAM Ds. KARANGWANGUN

III. KECAMATAN BEBER
1. MAKAM SYEKH DATUL KAHFI Ds. HALIMPU
2. BUYUT WAKJAH Ds. CIKANCET
3. BUYUT MANYANG Ds. SINDANG KASIH
4. BUYUT SANTA MALINDA Ds. SINDANG KASIH
5. ADIPATI KINCIR Ds. SINDANG KASIH
6. SUMUR TUJUH Ds. KONDANG SARI
IV. KECAMATAN CILEDUG
1. SUMUR KERAMAT LEUWEUNG GAJAH Ds. LEUWEUNG GAJAH
2. VIHARA BUDHI DHARMA Ds. CILEDUG
3. SITUS BALE KEBUYUTAN Ds. CILEDUG WETAN

V. KECAMATAN CIWARINGIN
- BALE GEDE GALAGAMBA Ds. CIWARINGIN

VI. KECAMATAN TALUN
- SITUS MAKAM KERAMAT TALUN Ds. TALUN

VII. KECAMATAN CIREBON UTARA
1. MAKAM KI LAYA Ds. KLAYAN
2. ALAS KONDA Ds. JATI MERTA
3. GUNUNGJATI Ds. ASTANA
4. GUNUNG SEMBUNG Ds. ASTANA
5. MAKAM PANDERASAN Ds. KALISAPU
6. NYI AGUNG SELA Ds. WANAKAYA
7. LAWANG GEDE Ds. MERTASINGA
8. MAKAM GLONDONG PANGARENG-ARENG Ds. SIRNABAYA
9. KI GEDE MAYANG Ds. MAYUNG
10. SITUS MAKAM PAHLAWAN TAK DIKENAL Ds. BUYUT

VIII. KECAMATAN DEPOK
1. KI GEDE ANGGA SOYAG Ds. KEDUANAN
2. BUYUT CIGOLER Ds. KASUGENGAN LOR
3. MAKAM DAWA Ds. BETASAN
4. MESJID KERAMAT Ds. DEPOK
5. SYEKH PASIRAGA Ds. DEPOK
6. PAKUNGWATI Ds. WARUGEDE

IX. KECAMATAN DUKUPUNTANG
1. BATU PRASASTI LUHU
DAYEUH Ds. CIKALAHANG 2. BUYUT DAWI Ds. BALAD
3. BATU CELEK Ds. BALAD
4. SUMUR BALAD Ds. BALAD
5. SULTAN MULYANA (PANGERAN PAPAK) Ds. BALAD 6. SUMUR JAYA Ds.

X. KECAMATAN GEBANG
1. MAKAM SANTRI Ds. MEKARSARI
2. ASTANA GEBANG ILIR Ds. GETANG KULON
3. KERATON GEBANG Ds. GETANG KULON

XI. KECAMATAN GEGESIK
1. KI JANGKAR Ds. GEGESIK LOR
2. KI RAJA PENDITA Ds. GEGESIK LOR
3. KI GEDE GESIK Ds. GEGESIK KULON
4. KI PANUNGGUL Ds. GEGESIK KIDUL
5. KI WARGA Ds. GEGESIK KIDUL
6. PASANGGRAHAN Ds. GEGESIK KIDUL
7. KI GEDE BAYALANGU Ds. BAYALANGU 8. GERUDA Ds. GEGESIK LOR 9. PANGERAN MARSUKI Ds. GEGESIK LOR
10. NYI LARA KELI Ds. PANUNGGUL

XII. KECAMATAN PALIMANAN
1. KI GEDE PALIMANAN Ds. PALIMANAN BARAT

XIII. KECAMATAN GEMPOL
1. BUYUT AMAD
2. SUNAN BONANG Ds. CUPANG

XIV. KECAMATAN KLANGENAN
1. SUMUR KERAMAT NYI AJENG Ds. DANAWINANGUN
2. MESJID KERAMAT KEBAGUSAN Ds. SITIWINANGUN 3. NYI GEDE JEMARAS Ds. JEMARAS
4. SURAWANA BAGO DUA Ds. BANGO DUA
5. BUYUT JAKA Ds. SERANG
6. BUYUT SERANG Ds. SERANG
7. NYI ENDANG GEULIS Ds. DANAWINANGUN
8. KI GEDE REKATINGAN Ds. REKATINGAN

XV. KECAMATAN KAPETAKAN - SYEKH MAGELUNG SAKTI Ds. KARANG KENDAL

XVI. KECAMATAN KELIWEDI
1. KI GEDE KALIWEDI Ds. KALIWEDI
2. KI MADUN JAYA Ds. GUWA

XVII. KECAMATAN KEDAWUNG
1. BALONG TUK Ds. KERTAWINANGUN 2. SYEKH MAJAGUNG Ds. KEDUNGJAYA
3. BRAMASARI Ds. KEDUNGJAYA 4. PANGERAN AKMAD PANJI Ds. KALIKOA

XVIII. KECAMTAN KARAN SEMBUNG
1. BUYUT NURYADI Ds. KALIMEANG
2. BUYUT Ds. KALIMEANG
3. BUYUT MAYAGIRI Ds. KARANGMEKAR
4. BUYUT DJAISEM Ds. KARANGSEMBUNG
5. ARUMAN Ds. KALIMEANG
6. ASTANA PALIYANGAN Ds. KARANGMALANG
7. MBAH BUYUT MAINEM Ds. KARANGMALANG

XIX. KECAMATAN LEMAHABANG
1. CILAMPAYAN Ds. PICUNG PUNGUR
2. MAKAM MBAH BUYUT MUQOYIM Ds. TUK
3. MBAH BUYUT PANGERAN ARDI SELA Ds. TUK
4. MBAH KUWU CIREBON/ TALAPAK/ PATILASAN Ds. SINDANGLAUT
5. SINDANG PANCURAN Ds. TUK

XX. KECAMATAN LOSARI
1. KI BUYUT MERTASARA (BUYUT PASALEMAN) Ds. MULYASARI
2. JAMI AL QAROMAH Ds. MULYASARI
3. PANGERAN DEKEN Ds. BARISAN

XXI. KECAMATAN MUNDU
1. PANGERAN RAJA MUHAMAD Ds. LUWUNG
2. PANGERAN BRATA KELANA Ds. MUNDU GESIT

XXII. KECAMATAN PABEDILAN
1. MAKAM BATISARI Ds. PABEDILAN
2. BUYUT GAMENG Ds. BABAKAN LOSARI

XXIII. KECAMATAN PABUARAN 1. NYI RANDAH KASIH Ds. SOKADANA
2. KEDUNG OLENG Ds. HULUBANTENG
3. MBAH BUYUT SODIKIN Ds. HULUBANTENG 4. MESJID BAITURROHIM Ds. SUKADANA XXIV. KECAMATAN PALIMANAN 1. BUYUT HASAN BASARI Ds. KEPUH
2. BUYUT KI BRAJA UNGKARAN Ds. PANGENAN
3. SUMUR CIRAWAT Ds. KEPUH 4. BUYUT PETABON GUNUNG GIWUR Ds. KEPUH
5. KI BUYUT JOHAR Ds. BALERANTE
6. PANCURAN DARIS Ds. BALERANTE
7. MESJID PANONGAN Ds. PANONGAN

XXV. KECAMATAN PENGURAGAN
1. PANGERAN SURYANEGARA Ds. LEMAH AMBA
2. BALONG KRAMAT Ds. PANGURAGAN LOR
3. PANGERAN JAGABAYAN Ds. PENGRAGAN LOR
4. KI BLUWUK Ds. PANGURAGAN LOR
5. NYI MAS GADING RONGGENG Ds. KALIANYAR
6. MAKAM PANDAWA Ds. KALIANYAR
7. SUMUR KEJAYAN Ds. PANGURAGAN LOR
8. LUMBUNG PADI Ds. PENGURAGAN
9. NYI MAS RATU GANDASARI Ds. PANGURAGAN

XXVI. KECAMAAN PASALEMAN
1. PATILASAN PANGERAN
WALANGSUNGSANG Ds. TONJONG 2. KI BUYUT RANGGA KEMAYANG Ds. TONJONG
3. SUMUR KERAMAT JAPURA LOR Ds. JAPURA LOR

XXVII. KECAMATAN PANGENAN
1. KI GEDE JAPURA LOR Ds. JAPURA LOR
2. BUYUT LAGGENG Ds. RAWA URIP
XXVIII. KECAMATAN PLUMBON
1. NYI MAS GANDASARI Ds. BODE LOR
2. PANGERAN PURBAYA Ds. PURBAYA
3. SYEKH HAJI ABDULATIF Ds. MARIKANGEN
4. SUMUR GAMBIRAN Ds. CENGKUANG

XXIX. KECAMATAN PLERED
1. KI BUYUT TRUSMI Ds. TRUSMI WETAN
2. DANALAYA Ds. TEGALSARI
XXX. KECAMATAN SUSUKAN
1. NYI MAS PANDANSARI Ds. JATIANOM
2. KI PADAMARAN Ds. KEDONGDONG
3. MAKAM GAMAN/ MAKAM DAWA Ds. KEDONGDONG
4. KI BOGO Ds. UJUNG GEBANG 5. NYI BUYUT UJUNG GEBANG Ds. UJUNG GEBANG
6. NYI MAS JUNTI Ds. UJUNG GEBANG
7. KI TAMBAK Ds. UJUNG GEBANG
8. NYI WARJA Ds. UJUNG GEBANG 9. KI SELAPADA Ds. BUNDER 10. BUYUT ADIPATI GELONG Ds. JATI ANOM

XXXI. KECAMATAN SUSUKAN LEBAK 1. BATU TULIS HURUF CINA Ds. CIAWIJAPURA 2. SITUS TAMPIAN Ds. WILULANG 3. MBAH NURKALAM Ds. SUSUKAN LEBAK

XXXII. KECAMATAN SEDONG 1. NYI MAS PAKUNGWATI Ds. PUTAT 2. SYEKH ABDUL KAHFI Ds. PUTAT 3. BUKIT PASIR IPIS Ds. SEDONG KIDUL

XXXIII. KECAMATAN SUMBER 1. BALONG SUMBER KELURAHAN SUMBER 2. SITUS PASALAKAN KELURAHAN SUMBER 3. PLANGON KELURAHAN BABAKAN 4. PANGERAN PASAREAN KELURAHAN GEGUNUNG 5. WATA SEMAR KELURAHAN BABAKAN

XXXIV. KECAMATAN TENGAH TANI
1. MAKAM BUYUT MUJI Ds. DAWUAN
2. MAKAM BUYUT GESIK Ds. GESIK
3. MAKAM KI LAMAYAN Ds. DAWUAN

XXXV. KECAMATAN WALED
1. MAKAM KI BUYUT ROPISA Ds. CIKULAK
2. SITUS SELA SUTAJAYA Ds. WALED KOTA
3. SUMUR SELA Ds. CIKULAK KIDUL

XXXVI. KECAMATAN WERU
1. MEGU GEDE Ds. MEGU GEDE
2. BALE GEDE Ds. MEGU CILIK
3. DANALAYA Ds. TEGAL SARI


Demikian yang dapat saya beritahukan kepada pembaca blogger semoga dengan adanya nama situs di kecamatan kabupaten cirebon Dapat bermanfaat
zhons

Muludan Trusmi plered cirebon



Setiap tanggal 12 Rabiull Awal kita memperingati Maulid Nabi. Di Kota Cirebon Maulid Nabi lebih populer dengan sebutan Muludan. Peringatan Muludan di Kota Cirebon terpusat di beberapa tempat di antaranya Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman. Di kedua keraton tersebut pada bulan maulid banyak sekali dikunjungi masyarakat dari berbagai daerah, yang tentunya juga menarik para pedagang untuk berdagang di sekitar keraton tersebut. Sehingga selama ini atmosfer tradisi Muludan lebihidentik dengan suasana pasar tahunan

Salah satu tradisi di Kabupaten Cirebon Jawa Barat yang banyak didatangi masyarakat adalah perayaan kelahiran Nabi Muhammad SAW (muludan) di Trusmi

tradisi Muludan sejumlah keraton di Cirebon. Meskipun demikian, bukan berarti semarak Muludan di Cirebon berakhir. Sejumlah daerah lain secara bergilir siap menyelenggarakan tradisi Muludan secara masal seperti di daerah Trusmi, Kecamatan Plered.

Tradisi mauludan trusmi diadakan setiap tahun menjelang bulan kelahiran nabi muhammad SAW setelah mauludan di kasepuhan rolasan 1-12 baru pindah ke daerah trusmi 12-25 , selaweaan

Masyrakat trusmi bilang dinamakan pelalan Puncak berahirnya mauludan di trusmi selawean 12-25 di hitung lanjutan setelah mauludan di kasepuhan

di sejumlah ruas jalan Trusmi dan menuju ke arah lampu merah plered sudah ramai pedagang. Jika sebelum puncak Muludan Keraton pedagang baru ada di sekitar Situs Makam Keramat Trusmi,bertambah ke arah menuju Panembahan.

muludan tidak hanya ada di Kesepuhan dan Kanoman saja, melainkan ada juga ada tempat lain seperti Desa Trusmi, Desa Tuk dan Desa Astana Gunung Jati.

Muludan Trusmi merupakan rangkaian dari acara tradisi Muludan Cirebon yang dimulai dari Keraton Kanoman ( 1-8 Mulud ), Keraton Kasepuhan ( 1-12 Mulud ) Gunung Jati ( 12 Mulud ), Tuk ( 19 Mulud ), Gegesik ( 21 Mulud ) dan terkhir Trusmi ( 12-25 Mulud ).

Tradisi mauludan trusmi terbesar ke dua setelah mauludan di kasepuhan cirebon

pedagang dan pengunjung yang membanjiri acara ini. Rentetan pedagang dan hiburan berjajar sepanjang jalan desa Trusmi Wetan, Trusmi Kulon, Weru Lor dan Kaliwulu.

Terlihat penuh sesak karena jalanan Trusmi hanya satu arah sehingga pengunjung harus rela berdesak-desakan. Lain halnya dengan jalanan di Kasepuhan yang pararel membuat banyak pilihan untuk membagi keramaian.

Membludaknya pengunjung menyebabkan macet di sekitar Pasar Plered, baik dari arah Palimanan maupun arah Cirebon. Dan diprediksi, puncak membludaknya pengunjung terjadi pada muludan penanggalan Jawa selawean 25 MULUDAN TRUSMI.
zhons

Asal usul tari ronggeng bugis

Pada tanggal 14 bulan oktober di adakan acara memayu buyut trusmi kecamatan plered kabupaten cirebon Pada arak arakan tersebut banyak mereka yang datang serta mengikuti acara arak arakan dengn berbagai pertunjukan salah satu dari yang1perna saya tonton adalah tari "Ronggeng Bugis ".

Di mana peserta dari daerah trusmi kulon mereka menari unjuk kebolehan dalam menari

asal usul tari ronggeng bugis

jenis seni tari yang berkembang di Kabupaten dan Kota Cirebon. Beberapa sumber menyebutkan bahwa tari ini dilahirkan semasa dengan pembentukan Kerajaan Cirebon oleh Sunan Gunung Jati tahun 1482. Ide lahirnya tari ini adalah sebagai samaran dalam kegiatan memata-matai musuh. Tari yang dimainkan oleh kaum laki-laki ini didandani seperti perempuan dan ditampilkan dalam bentuk sendratari yang mengandung unsur humoris. Kata “bugis” yang melekat pada nama tari ini identik dengan nama salah satu suku bangsa di Pulau Sulawesi bagian selatan

selain suku bangsa Makassar, dan Toraja. Kaitan antara Kerajaan Cirebon dengan suku Bugis ini adalah adanya klaim bahwa orang-orang bugis telah menjadi bagian dari pasukan telik sandi Cirebon sehingga namanya menjadi Ronggeng Bugis.

Masalahnya, dukungan data berupa dokumen tentang keberadaan orang Bugis di Cirebon pada abad XV tidak ada kecuali oral history, tetapi telah menjadi keyakinan masyarakat setempat terutama kalangan seniman bahwa orang Bugis pernah menjadi anggota pasukan Kerajaan Cirebon. Tujuan penulisan ini adalah mengungkap peranan orang Bugis di Cirebon dengan melakukan perbandingan dengan beberapa peristiwa yang berkaitan dengan “merantaunya” pasukan Bugis. Metode yang digunakan adalah metode diskriptif analisis sedangkan pemaparan peristiwanya menggunakan metode sejarah. Hasilnya adalah fakta menarik tentang peranan orang Bugis tersebut
zhons

Kumpulan foto foto arak arakan memayu buyut trusmi 2018

Sekumpulan foto foto arak arakan memayu buyut trusmi 2018 berlangsung



.































zhons

Memayu Buyut trusmi cirebon 2018 part 2

Di awali dengan baca bismilahirohmanirohim Postingan yang ke dua kali ini berjudul Memayu Buyut trusmi cirebon 2018 part 2 ,

Memayu buyut trusmi adalah untuk mengganti atap terbuat dari bahan daun rumbia. pada bulan september lalu juga berganti atap dengan berbahan kayu jati atap tersebut Pergantian tahap pertama di komplek makam buyut trusmi tersebut bernama buka sirap warga trusmi pun gotong royong saling membantu agar atap selesai di pasang

Memayu buyut trusmi Trusmi, Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon,

Menyambut tradisi acara tahunan memayu buyut trusmi kecamatan plered kabupaten cirebon sebelum arak arak arakan di mulai pada hari sabtu malam minggu masyrakat trusmi menggelar acara hiburan organ dangdut serta pagelaran wayang kulit dan hari minggu pagi di gelar arak arakan sekitar pukul 5 .00 WIB sampai dengan selesai

Pada pukul 4 lebih 30 menit Saya langsung menuju pusat daerah trusmi bukan untuk mengikuti acara karnaval atau di kenal masyarakat trusmi arak arakan / ider ideran

guna untuk memantau jalanya arak arakan di daerah trusmi sekaligus menonton Dari bada sholat subuh jalanan didaerah trusmi padat merayap penuh dengan orang mondar mandir serta sudah ada , pacuan kuda , dan replika berbagai bentuk binatang, ada pula berbagai macam kesenian tradisional jawa barat

Dan sayapun langsung menuju ke plered guna untuk pengambilan gambar bermodalkan kamera smartphone asus zenfone 6 yang saya miliki

Langsung menuju artikel terbaru update minggu 14 oktober 2018

Waktu demi waktu terus berjalan sampai menunggu rombongan para sesepuh keramat buyut trusmi atau bisa di sebut rombongan para KYAI,KUNCI,SERTA KEMIT tiba,pada saat rombongan sesepuh buyut trusmi berjalan paling depan kemudian lah di susul masyarakat yang ikut karnaval memayu buyut trusmi dengan membawa replika yang sudah di buat sedemikian rupa replika hasil karya anak cirebon dan kota kota lain pun turut hadir meramaikan arak arakan tersebut

Saya mengambil gambar pertama adalah gapura batik trusmi



Dan di susul kemudian rombongan para kyai buyut trusmi



Dan ini rombongan para kemit



Kemudian di susul peserta yang mengikuti arak arakan



Peserta Pacuan Kuda

Untuk kumpulan foto foto arak arakan mohon tunggu saya akan mengupload

Terimakasih www.trussemi.blogspot.com