Our Feeds
zhons

Suasana jelang memayu buyut trusmi

terussemi kecamatan Plered kab Cirebon Hari jumat pagi hingga malam 30 Oktober 2026 menjelang memayu buyut trusmi
terlihat para pedagang musiman tahunan kupat dan lepet dalam bahasa jawa wong trusmi cirebon mereka menjajakan dagangan begitu antusias dalam rangka memayu buyut trusmi ganti welit atau ganti atap yang terbuat dari bahan alami rumbia yang akan di gelar pada hari senin tanggal 2 November tahun 2026 Acara ini digelar setiap tahun menjelang musim hujan,” menurut masyarakat sebagai wujud syukur kepada Yang Maha Kuasa, Terlepas dari pro-kontra yang belakangan muncul dalam memaknai ritus “memayu”, upacara ini nyatanya masih terus diuri-uri oleh masyarakat Cirebon. Istilah “memayu” sendiri berasal dari kata “hayu” yang berarti cantik, indah atau selamat. Kata memayu mendapat awalan “ma” menjadi “mamayu” yang berarti mempercantik, memperindah atau meningkatkan keselamatan. Namun setelah sering-sering diucapkan, kata mamayu menjadi popular disebut memayu .
zhons

Muludan Trusmi 2019

Cirebon , trusmi 2019,-

Tahun ini acara Muludan Cirebon tempat di alin alun trusmi berlangsung selama 13 hari sampai 25 atau pelalan di sebut juga selawean malam puncak perayaan muludan di trusmi yaitu Malam Pelal.

Tradisi yang sudah berjalan bertahun-tahun itu bertempat di alun-alun trusmi dan sekitarnya, tradisi ini tak pernah sepi pengunjung. Sebelum acara Malam Pelal, banyak pedagang yang membuka lapak mereka hampir satu bulan lamanya.

Warga dari berbagai daerah, sengaja berkunjung ke muludan trusmi untuk bersilaturahmi dengan sesepuh buyut trusmi. Mereka melakukan tradisi Caos, datang dengan membawa hasil bumi sebagai bentuk bakti kepada tradisi.

Di arena muludan, pengunjung dimanjakan dengan berbagai dagangan yang dijual dari kebutuhan rambut sampai kaki, terutama aksesoris. Ada juga kebutuhan sandang untuk anak-anak sampai dewasa. Banyak ditemui pedagang khas muludan, mulai dari kapal otok-otok, replika alat-alat masak dari bambu dan alumunium. Serta berbagai kuliner khas Cirebon dan arena permainan anak yang ikut memeriahkan acara muludan untuk mendapatkan rejeki.

“Semoga acara ini tidak pernah punah, itung-itung pasar malem taunan yang besar. Saya slalu sempatkan mengunjungi muludan di trusmi setiap taun,seorang ibu membawa anak-anak juga sedang menemani buah hatinya menikmati permainan mancing ikan dan berbagai wahana mainan anak anak

zhons

Foto Memayu Buyut Trusmi 2019



Minggu pagi (20/10/2019),

 mereka mengular di pinggiran jalan sejak pukul 06.00 WIB untuk menyaksikan ider-ideran karnaval “Memayu Buyut Trusmi”.

Diiringi suara gamelan, beberapa pria berpakaian putih-putih serupa begawan menyeruak dari tengah kerumunan, mereka para kemit(petugas jaga makam keramat) yang bertugas mengirab 14 tombak pusaka warisan Ki Buyut Trusmi.
Di belakangnya, berbaris rombongan lelaki berseragam merah muda, memakai iket “mega mendung”, membawa welit alias atap rumbia.

 Rombongan pengirab 14 tombak pusaka warisan Ki Buyut Trusmi, Cirebon.
Berurutan di belakang pembawa welit, muncul rombongan peserta karnaval dari seluruh kukuban Cirebon lengkap dengan atraksi seni mereka. Mulai dari kelompok tari, street art costum, patung karakter berukuran raksasa, beragam hasil bumi dan makanan, iring- iringan kelompok berkuda, hingga kereta kencana.
Ider-ideran atau arak-arakan ini dihelat dari kompleks Makam Buyut Trusmi hingga Ke arah Panembahan
















Untuk detailNya mengenai sejarah Memayu buyut Trusmi selengkapnya klik link di bawah ini 


https://trussemi.blogspot.com/2019/09/memayu-buyut-trusmi-2019.html?m=1

Semoga dibtahun kedepan nya nanti aman dan kondustif


zhons

Memayu buyut trusmi 2019



Minggu pagi (20/10/2019),

 mereka mengular di pinggiran jalan sejak pukul 06.00 WIB untuk menyaksikan ider-ideran karnaval “Memayu Buyut Trusmi”.

Diiringi suara gamelan, beberapa pria berpakaian putih-putih serupa begawan menyeruak dari tengah kerumunan, mereka para kemit(petugas jaga makam keramat) yang bertugas mengirab 14 tombak pusaka warisan Ki Buyut Trusmi.
Di belakangnya, berbaris rombongan lelaki berseragam merah muda, memakai iket “mega mendung”, membawa welit alias atap rumbia.

 Rombongan pengirab 14 tombak pusaka warisan Ki Buyut Trusmi, Cirebon.
Berurutan di belakang pembawa welit, muncul rombongan peserta karnaval dari seluruh kukuban Cirebon lengkap dengan atraksi seni mereka. Mulai dari kelompok tari, street art costum, patung karakter berukuran raksasa, beragam hasil bumi dan makanan, iring- iringan kelompok berkuda, hingga kereta kencana.
Ider-ideran atau arak-arakan ini dihelat dari kompleks Makam Buyut Trusmi hingga Ke arah Panembahan

“Acara ini digelar setiap tahun menjelang musim hujan,” menurut masyarakat

sebagai wujud syukur kepada Yang Maha Kuasa,
Terlepas dari pro-kontra yang belakangan muncul dalam memaknai ritus “memayu”, upacara ini nyatanya masih terus diuri-uri oleh masyarakat Cirebon.


Istilah “memayu” sendiri berasal dari kata “hayu” yang berarti cantik, indah atau selamat. Kata memayu mendapat awalan “ma” menjadi “mamayu” yang berarti mempercantik, memperindah atau meningkatkan keselamatan. Namun setelah sering-sering diucapkan, kata mamayu menjadi popular disebut memayu .
Menurut Casta dan Taruna dalam Batik Cirebon, memayu dalam bahasa kawi berarti mbagusi, memperbaiki atau membuat bagus.
Sedangkan khusus dalam  konteks upacara memayu dan ider-ideran Trusmi, kata memayu mengandung dua pengertian. Pertama, memayu dimaksudkan untuk memperbaiki atap-atap masjid Trusmi yang sudah lama dan menggantikannya dengan  yang  baru. Kedua, memayu berarti mbagusi (memperbaiki) diri manusia dari sifat-sifat lama yang jelek dengan sifat-sifat

Pada mulanya tujuan utama dari upacara memayu diyakini sebagai penyebaran agama Islam. Rangkaian kegiatannya antara lain: ganti welit (mengganti atap rumbia) dan buka sirap (mengganti atap situs Buyut Trusmi dengan kayu jati), mengganti atap masjid, sehari setelah acara kirab budaya, dan tahlilan pada malam harinya.
Buka sirap dan ganti welit harus dilakukan pada hari Senin, berkaitan dengan hari lahir Nabi Muhammad SAW.
Disamping itu, spiritualitas yang diajarkan Ki Buyut Trusmi sebagai ulama yang memimpin masyarakat Trusmi terkandung dalam setiap pertunjukan yang digelar saat memayu. Salah satunya ialah pentas brai, yaitu seni tradisi yang memiliki nilai religiusitas tinggi.
Mengutip tulisan Dede Wahidin, “Potensi Kesenian Daerah Cirebon”, istilah brai sendiri berasal dari kata “brahi” yang berarti menyatu atau kasmaran atau jatuh cinta.
Dalam konteks ini maksud dari pada brai ialah penyatuan diri seorang hamba sebagai wujud kecintaaanya kepada Sang Khaliq yang mereka ungkapkan melalui media seni. Selain itu makna-makna yang tersirat dalam upacara-upacara tersebut mengandung nilai-nilai luhur dan norma-norma syari’at Islam

zhons

Bunga Eceng Gondok Ala Korea

Berita yang sangat mengembirakan khususnya warga wadas kecamatan plered kabupaten cirebon ini sangat mengejutkan betapa tidak , di tempat kampung halaman ,ada sebuah tanaman air nama tanaman itu ialah enceng gondok atau eceng gondok

Tumbuhnya eceng gondok disertai bunga yang indah, di Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon, banyak diburu warga. Terlebih menjelang sore hari, tak sedikit pengunjung yang sengaja datang ke lokasi untuk berfoto dengan background bunga eceng gondok. Tempat ini pun kemudian viral saat ini di facebook dan instagram,









Mereka yang datang dari berbagai daerah baru baru ini saya dengar dari daerah
 trusmi,kalitengah,panembahan,setu kulon,setu wetan,tengah tani, kedawung dan ada juga dari cirebon kota ada pun mereka yang datang dari luar kota cirebon,

Tempat yang sangat indah untuk berfoto ria

WADAS CIREBON ALA KOREA

 #Trussemi blog