Our Feeds
zhons

Babad pengampon TANAH PENGAMPUNAN

BABAD PENGAMPON " TANAH PENGAMPUNAN." Konon di ceritakan, Nyi Endang Geulis adalah putri Syech Danuwarsih juga istri dari Pangeran Cakra Buana (Mbah Kuwu Cerbon) yang pernah singgah beberapa waktu di Pengampon untuk berda'wah dan menyebarkan agama islam, Beliau Nyi Endang Geulis meninggalkan Petilasan dan sebuah sumur yang hingga sampai sekarang masih tetap terpelihara dan juga konon, Beliau mendirikan sebuah surau atau mushola di daerah yang namanya Tegalan, yang sekarang sudah menjadi bagian dari sebuah wilayah kecamatan Jamblang. Beliau di yakini pula oleh masyarakat sekitar mempunyai sebuah piaraan seekor kerbau bule atau yang kata orang sunda bilang "munding bodas", sehingga konon meninggalkan sebuah bekas kubangan (tempat kerbau mandi). Pada saat itu hingga kini di percaya lokasi kubangannya kira kira berada di sebelah utara yang lokasinya hanya beberapa meter dari Pendopo kuburan (makam) Bontot di blok Pengampon kulon Rt 01. Dan juga ada sebuah Petilasan Keramat Nyi Endang Geulis sendiri berada di belakang balai desa Danawinangun namun Petilasan aslinya sebenarnya adalah di balai desa itu sendiri. Hingga kini masih terlihat dari jalan raya Klangenan - Panguragan yang sekarang menjadi nama jalanya jln.

Nyi Endang Geulis. Sekilas sejarah Pengampon berikut keterkaitannya dengan Nyi Endang Geulis, sudah menjadi kebiasaan seorang tokoh di masa lalu baik seorang tokoh agama ataupun seorang tokoh pemimpin selalu mempunyai riwayat Babad Alas atau Totor Alas sebagai cikal bakal mendirikan sebuah pemukiman baru berupa perkampungan penduduk. Konon sebelum beliau ke daerah Pengampon, terlebih dahulu Beliau ke daerah Tegalan. Dinamai daerah Tegalan karena dahulunya konon daerahnya berupa tanah lapang yang di penuhi padang rumput ilalang dan semak belukar, tetapi tidak di tumbuhi pohon pohon yg tinggi, sekarang wilayah Tegalan sudah pemekaran dan masuk kedalam wilayah kecamatan Jamblang, dan Beliau juga sempat membangun sebuah surau atau mushola sebuah tempat untuk sholat di Tegalan dan termasuk juga yang menjadi babad alasnya beliau adalah wilayah di daerah blok Lebak sor dan daerah blok Karang Anyar yang sekarang juga masuk kewilayah desa Jamblang, lalu kemudian ke daerah blok Pandean yang sekarang masuk ke wilayah desa Serang (pemekaran).

Konon kisah Asal muasalnya nama Pengampon secara luas di ceritakan pertama kalinya Beliau atau kanjeng Nyi Endang Geulis masuk kewilayah daerah Pengampon (sekarang) dulunya masih belum dinamai Pengampon. Saat pertama kali datang, Beliau masuk ke dalam sebuah hutan (alas Pengampon), saat Beliau berjalan di dalam hutan, Beliau tersandung dan terjatuh karena kakinya terlilit atau terjerat oleh sebuah tanaman rambat yaitu sebuah tanaman Labuh siyem (walu batik), maka serta merta Beliau langsung berdo'a dan bermunajat degan khusyu memohon Ampunan kepada Allah SWT sambil Beliau berucap di mana saat Beliau terjatuh dan kakinya terlilit Labuh siyem, Beliau terus Memohon AmpunanNya, kemudian Beliau berucap "Kelak di kemudian hari daerah ini akan di kenal dengan nama tanah Pengampon (Tanah Pengampun). Tanah di mana saat beliau terjatuh dan terlilit oleh tanaman Labuh siyem ini yang hanya berdiameter sebesar ukuran Setampi atau Setampa (bahasa jawa Tebok) yaitu selebar alat untuk memilah/menampi beras. Maka dari itu Konon, "Anak Putu" (anak cucu) Beliau pantangan atau larangan menanam buah Labuh siyem dan memakan kerupuk kulit kerbau. Kemudian Beliau mewujudkan ucapanya, Beliau lalu Totor Alas atau Babad Alas untuk bermukim dan tinggal di tanah Pengampon. Setelah sekian lama, daerah Pengampon (sekarang Desa Danawinangun) sudah menjadi sebuah pemukiman yang terus di datangi orang-orang yang ingin tinggal dan bermukim bersàma Beliau. Tempat tinggal beliau masa itu adalah yang sekarang menjadi balai desa Danawinangun. Seiring berjalannya waktu tempat tinggal beliau di jadikan pusat pemerintahan, maka agar anak cucu beliau tidak mengganggu pusat pemerintahan pada masa itu maka oleh masyarakat Pengampon di bangunlah sebuah Pendopo untuk menyimpan benda-benda pusaka peninggalan Beliau yang hingga kini menjadi Pendopo Buyut Pengampon Nyi Endang Geulis untuk anak cucunya kelak bagi yang ingin berziarah.

Kemudian Beliau juga sempat membangun Langgar Agung (masjid) tempat Beliau untuk berBibbah, yang sekarang menjadi Masjid Jami AL ISTIQOMAH Danawinangun. Dengan kedatangan para penduduk yang berdomisili dan menetap selamanya di tanah Pengampon, yang pastinya para penduduk secara turun temurun mengetahui cerita asal usul tanah Pengampon yang sekarang menjadi sebuah Desa di kecamatan Klangenan. Tanah Asli Pengampon (setampi) sekarang sampai saat ini keberadaanya masih ada, yaitu konon yang berada di lokasi sebelah Utara Masjid Al- Istiqomah desa Danawinangun yg sudah pasti berkaitan degan Nyi Endang Geulis saat Beliau terjatuh, maka ada sebuah tradisi yg berkembang untuk mengingat Beliau di tanah Pengampon, di mana para penduduk yang sekarang mereka tempati, yaitu sebuah tradisi menyuguh atau menyajikan tanah liat kering yg di olah dan bikin secara khusus yakni yang bernama tanah "Ampo" yang bisa di makan dan baunya wangi, merupakan sebagai simbol permohonan ampun dan keselamatn kepada Allah SWT dalam setiap acara hajatan dan acara2 lainya.

Cara pembuatan tanah liat kering yang kemudian di sebut Ampo ini melalui proses yang panjang, dan sekarang sudah jarang di jumpai dan jarang yang membuatnya, tapi masih ada beberapa orang yang masih bisa membikin Ampo ini yaitu di daerah blok Tegalan desa Sitiwinangun. Dan juga, untuk mengenang jasa jasa Beliau, masyarakat desa Danawinangun setiap tanggal 17 Mulud (bulan jawa) selalu diadakan Khaul Ngunjung Buyut Nyi Endang Geulis dalam Acara Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dengan do'a bersama, Tahlil dan Tawasulan yang merupakan Tradisi tiap tahun selalu di adakan oleh masyarakat desa Danawinangun juga masyarakat blok Tegalan. Tradisi Adat Budaya yang sudah kita kenal ini adalah " Mider Buyut" yaitu Mengarak keliling sebuah Pusaka Peninggalan Beliau berupa Tombak di mulai pada malam hari hingga menjelang subuh mengelilingi semua daerah wilayah kekuasaan Beliau pada masa itu...
br/> Wallohu'aklam bishowab... Pangapunten'e lan Maturkesuwun...

zhons

Sejarah desa jemaras cirebon

SEJARAH DESA JEMARAS CIREBON

ada zaman dahulu kala, yaitu sejak perkembangan agama Islam yang disiarkan oleh para wali di tanah Jawa (Wali Sanga), di hutan sebelah barat wilayah kerajaan/kesultanan Cirebon, Mbah Kuwu Cakrabuana dengan puterinya yang keempat yaitu Nyi Gede Jemaras mengadakan toto alas (babad hutan) untuk membuat pedukuhan atau desa. Setelah banyak pepohonan yang tumbang kemudian dibakar. Abu dari pembakaran pepohonan tersebut tertiup angin kesana kemari, kemudian diteliti sampai dimana abu itu berada, itulah yang menjadi batas wilayah pedukuhan tersebut. Begitulah peraturan adat zaman dahulu untuk menentukan batas-batas pedukuhan.

Mbah Kuwu Cakrabuana adalah seorang putera Prabu Siliwangi dari Kerajaan Pajajaran, yang semula bernama Raden Walangsungsang. Pergi mengembara untuk menuntut ilmu agama Islam. Beliau berguru agama Islam kepada Syekh Nurjati di Gunung Jati. Setelah dianggap mapan dalam menerima ilmu agama Islam, gurunya memberikan nama Somadullah dan diperintahkan untuk menunaikan ibadah haji ke Mekah, kemudian mendapat julukan Haji Abdul Iman seusai menunaikan ibadah haji.

Sepulangnya menunaikan ibadah haji singgah dulu di Negeri Campa untuk berguru kepada Maulana Akbar Ibrahim yang dikenal dengan sebutan Pandita Mutakim. H. Abdul Iman dijadikan menantu oleh Pandita Mustakim dijodohkan dengan puterinya yang bernama Nyi Rasa Jati. Dari pernikahannya mendapat 7 (tujuh) orang puteri yaitu :

1. Nyi Lara Konda, di Alas Konde Gunung Jati
2. Nyi Lara Sejati, di Gunung Jati 3. Nyi Jati Merta, di Desa Jati Merta
4. Nyi Jemaras, di Desa Jemaras (Desa Jemaras Kidul)
5. Nyi Mertasinga, di Desa Mertasinga
6. Nyi Cempa, di Desa Dukuh, Karang Kendal
7. Nyi Rasamalasih, di Blok Sembung Astana Gunung Jati

Dengan demikian nama Desa Jemaras adalah nama asli Nyi Gede Jemaras sendiri yang diabadikan sebagai nama desa. Pada tanggal 21 April 1983 Desa Jemaras dimekarkan menjadi 2 desa, yaitu Desa Jemaras Kidul meliputi blok Kendron, blok Cangkuang, blok Pandi, blok Sigaga, blok Kebonan, blok Desa dan blok Penjalinan (sebagian). Desa Jemaras Lor meliputi blok Penjalinan, blok Kejuden, blok Jlengut Wetan, blok Siduwet, blok Karang Sumpit dan blok Karang Dalem. Walaupun sudah ada pemekaran desa yaitu Desa Jemaras Kidul dan Desa Jemaras Lor, rakyat Desa Jemaras tetap bersatu dalam hal pembangunan desa, bidang pertanian, perdagangan (kerajinan rakyat, pandai besi) dan sebagainya.

Nyi Jemaras adalah puteri Mbah Kuwu Cakrabuana yang sangat dikasihi dan dicintai ayahandanya. Ketika Mbah Kuwu bercocok tanam, menanam padi di daerah Jungjang, beliau bermukim di Desa Slangit memelihara kerbau, yang menjadi pengembalanya ialah Ki Gede Langgen, kandangnya berada di Slangit, tempat guyang kerbau (memandikan kerbau) di blok Pengguyangan (di sungai pengguyangan Jemaras), weluku (bajak)nya disimpan di blok Kendron.

Dahulu Desa Jemaras terkenal ada pesantren yang dipimpin oleh guru besar agama Islam Ki Buyut Santri Wiraguna (Ki Madulah) berasal dari Demak.

Tokoh masyarakat yang ada di Desa Jemaras Kidul adalah : - Buyut Nyi Gede Jemaras - Buyut Santri Wiraguna (Ki Madulah)
- Buyut Jeneng. - Buyut Ngabei Wirasasmita. - Buyut Judipati (Ki Kandim), Buyut Rebe’,Buyut Segara, Buyut Kendru, Buyut Mataram. - Buyut Ki Barep, Buyut Kencong - Buyut Pande’ (Buyut Ki Bekila) Putera Pangeran Kejaksan - Buyut Jembangan, Buyut Ipik, Buyut Murti (Sigaga)

Yang ada di Desa Jemaras Lor ada 4 (empat) yaitu : - Buyut Jaben (Jlengut) - Buyut Kejuden (menantu) dari Buyut Ki Judipati (Ki Kandim) asal dari Desa Kejuden Plumbon. - Ki Buyut Santri - Ki Patra Adapun Ki Judipati (Ki Kandim) sendiri berasal dari Demak kerabat Ki Buyut Santri Wiraguna.

Nyi Gede Jemaras bersuamikan Adipati Keling asal dari India. Adipati Keling diberi tugas memimpin pasukan/prajurit Kasultanan Cirebon (Keraton Pakungwati) untuk mempertahankan kerajaan Islam di Cirebon

Jeneng : nama pangkat (jabatan) kepala desa/kuwu. Ngabei : nama pangkat (jabatan) perangkat desa yang bertugas ganda Judipati : nama pangkat (jabatan) yang bertugas mengadili (menghakimi) suatu perkara

kejahatan (kriminal) dari serbuan prajurit Rajagaluh dan Telaga yang bermaksud menghancurkan Keraton Pakungwati Cirebon. Adipati Keling dibantu oleh Syekh Magelung Sakti, Nyi Mas Gandasari, Adipati Arya Kemuning, Pangeran Carbon dan lain-lain. Sebagai penasehat perang dan pengayom adalah Pangeran Cakrabuana sendiri.

Dengan izin Allah SWT kemenangan ada di pihak kerajaan Pakungwati Cirebon dan semua musuh takluk dan memeluk agama Islam.

Nyi Gede Jemaras memiliki nama lain yaitu :
- Ratu Ayu Nyi Mas Buyut Ranglang Sari
- Ratu Ayu Nyi Mas Buyut Marta Sari
- Ratu Ayu Nyi Mas Buyut Sambeng
- Ratu Ayu Nyi Mas Buyut Resmi
- Ratu Ayu Nyi Mas Buyut Nyi Gede Jemaras, dan lain-lain.

Buyut Nyi Gede Jemaras punya tanah bantar seluas “ambene sakukuban payung” artinya selebar payung, warnanya putih, tidak ditumbuhi rumput, kadang kelihatan kadang tidak kelihatan dan berpindah-pindah. Tanah tersebut tempat musyawarah antara Mbah Kuwu Cirebon dengan puterinya sendiri (Nyi Gede Jemaras). Apabila sedang berada dalam lingkaran tanah putih tersebut bila turun hujan, maka tidak basah kena air hujan. Sekarang tanah putih tersebut sudah tidak kelihatan lagi.

Selain tanah bantar, dahulu Buyut Nyi Gede Jemaras mempunyai tanah yang lain, yang berada di luar Desa Jemaras yaitu Tanah Teluk Dermayu disebut Pulo Klaras, Tanah Sumur Cere di daerah Eretan Indramayu, Tanah Cimalaka di daerah Sumedang, Tanah Sentigi di daerah Cilegi Indramayu, Tanah Jemaras sebelah utara Cileunyi Bandung. Tanah-tanah tersebut luasnya bervariasi dan masih hutan belukar yang konon masih angker, sampai sekarang tidak ada yang berani mengolah tanah-tanah tersebut.

Tanah-tanah tersebut diatas tidak tercantum dalam buku Model C Desa Jemaras. Ini hanya ceritera zaman dahulu, jasa peninggalan buat anak cucu Buyut Nyi Gede Jemaras saja. Adapun adat desa di Desa Jemaras ialah :

- Sedekah Bumi
Mapag Sri 1 x setiap tahun - Ngunjung Buyut 1 x setiap tahun sedangkan larangan /tabu bagi masyarakat Desa Jemaras ialah :

- Dilarang menanam padi merah, ketan hitam - Dilarang tanam labu merah, emes oyong Larangan tersebut dijaga dan dipatuhi oleh seluruh rakyat Desa Jemaras baik Desa Jemaras Kidul maupun Desa Jemaras Lor.

Menurut ceritera berdirinya pedukuhan/Desa Jemaras dan Masjid Desa Jemaras yaitu pada bulan Rajab tahun Alif ± tahun 1476 Masehi’

dapun nama-nama Kuwu Jemaras Kidul yang diketahui; yaitu:

1. Kuwu Marta : 1874 – 1904
2. Kuwu Munari : 1904 – 1906
3. Kuwu Ta’wi : 1906 – 1908
4. Kuwu Markab : 1908 – 1923
5. Kuwu Sastra Sujana : 1923 – 1945
6. Kuwu Bajuri : 1945 – 1946
7. Kuwu Salamun : 1946 – 1951
8. Kuwu Sidik : 1951 – 1958
9. Kuwu Suleman : 1958 – 1960

Tahun Alif adalah diantara nama tahun dalam sewindu (8 tahun); yaitu Alif, He, Jim Awal, Je, Dal, Be, Wawo, Jim Akir

10. Kuwu Resmita : 1960 – 1961
11. Kuwu Suparta : 1961 – 1965
12. Pejabat sementara Abu Bakar : 1965 – 1967
13. Kuwu Mira : 1967 – 1983
14. PJS. Taswin : 1983 – 1986
15. Kuwu Sukarjo : 1986 – 1994
16. PJS Nono Sutrisno : 1994 – 1995
17. Kuwu Ayo Sunaryo : 1995 – 2003
9⁹ 18. Kuwu AA Robandi : 2005 - sampai sekarang.
Nama-nama Kuwu Jemaras Lor; yaitu : 1. Kuwu Mir : 1983 – 1985
2. Sudila : 1985 – 1993
3. Sarmadi : 1993 – 2001
4. Sataria PJS : 2001 – 2002
5. Ato Rasmita : 2002 - sampai sekarang

Tanggal 21 April 1983 pemekaran Desa Jemaras Kidul dan Desa Jemaras Lor. #SejarahCirebon
zhons

Suku bangsa cirebon

SUKU BANGSA CIREBON

Suku Cirebon adalah perpaduan antara 2 suku besar yaitu Suku Jawa dan Suku Sunda akulturasi ke 2 suku tersebut melahirkan suku yang mandiri yaitu Suku Cirebon Sejak dahulu hingga sekarang Suku Cirebon adalah suku yang berbeda dari Jawa dan Suku Sunda hal itu terlihat dari jejak sejarah yang termuat dan terungkap dalam kitab Purwaka Caruban Nagari.

nama Cirebon berasal dari kata Sarumban yang jika di ucapkan maka menjadi Caruban seiring perkembangan Caruban berubah menjadi Carbon..Cerbon dan akhirnya menjadi Cirebon Sarumban memiliki arti Campuran maka Cirebon berarti campuran. Orang atau etnis Cirebon atau Suku Bangsa Cirebon adalah kelompok etnis yang tersebar di sekitar Kota Cirebon dan Kabupaten Cirebon,Kabupaten Indramayu,Kabupaten Majalengka sebelah utara atau biasa di sebut sebagai wilayah "Pakaleran",Kabupaten Kuningan sebelah utara, Kabupaten Subang sebelah utara mulai dari Blanakan Pamanukan hingga Pusakanagara dan sebagian pesisir utara Kabupaten Karawang mulai dari pesisir Pedes hingga Cilamaya di provinsi Jawa Barat dan di sekitar Kecamatan Losari Kabupaten Brebes jawa tengah Berjumlah sekitar 1,9 juta

Masyarakat suku cirebon memeluk agama islam,bahasa yang di tuturkan oleh orang Cirebon adalah gabungan dari bahasa Jawa,Sunda,Arab,China yang mereka sebut sebagai Bahasa Cirebon Mereka juga memiliki dialek Sunda tersendiri yang di sebut Bahasa Sunda Cirebon Pada mulanya keberadaan etnis atau orang Cirebon selalu di kaitkan dengan keberadaan Suku Sunda dan Jawa namun kemudian eksistensinya mengarah pada pembentukan budaya tersendiri mulai dari ragam batik pesisir yang tidak terlalu mengikuti pakem Keraton Jawa atau biasa di sebut batik pedalaman

Hingga timbulnya tradisi tradisi bercorak islam sesuai dengan di bangun nya Keraton Cirebon pada abad ke 15 yang berlandaskan islam 100%. Eksistensi dari keberadaan suku atau orang cirebon yang menyebut dirinya bukan suku sunda atau pun suku jawa akhirnya mendapat jawaban dari Sensus penduduk tahun 2010 di mana pada sensus penduduk tersebut tersedia kolom khusus bagi Suku Bangsa Cirebon. Hal ini berarti keberadaan Suku Bangsa Cirebon telah di akui secara Nasional sebagai sebuah suku tersendiri Indikator itu (Suku Bangsa Cirebon) dilihat dari bahasa daerah yang digunakan warga Cirebon tidak sama seperti bahasa Jawa atau Sunda. Masyarakat Cirebon juga punya identitas khusus yang membuat mereka merasa sebagai suku bangsa sendiri. Penunjuk lainnya yang mencirikan seseorang sebagai suku bangsa Cirebon adalah dari nama-namanya yang tidak seperti orang Jawa ataupun Sunda. Namun, belum ada penelitian lebih lanjut yang bisa menjelaskan tentang karakteristik identik tentang suku bangsa Cirebon. Untuk menelusuri kesukuan seseorang, hal itu bisa dilakukan dengan garis keturunan ayah kandungnya. Selain itu, jika orang itu sudah merasa memiliki jiwa dan spirit daerah itu (daerah Suku Bangsa Cirebon) maka dia berhak merasa sebagai suku yang dimaksud. Keunikan Bahasa Cirebon. Bahasa Cirebon yang unik ini dikarenakan daerah Cirebon yang berbatasan langsung dengan kebudayaan Sunda, khususnya sunda Kuningan dan sunda Majalengka. Selain itu juga karena dipengaruhi oleh budaya China, Arab, dan Eropa. Semua itu terbukti dengan adanya kata ‘Taocang” yang merupakan serapan bahasa China yang berarti kuncir, kata “Bakda” yang merupakan serapan bahasa arab yang berarti setelah, kata “Sonder” dari bahasa Eropa yang berarti tanpa. Bahasa Cirebon juga mempertahankan bentuk-bentuk bahasa kuno Jawa, misalnya “isun” yang berarti saya, kata “sira” yang berarti kamu. Semua bahasa tadi sudah tidak digunakan lagi oleh Jawa baku.

keunikan Cirebon yang lain adalah kesenian dan kerajinannya yang berlimpah. Kesenian dan kerajinan itu diantaranya kesenian tari Topeng, Sintren, Batik, Kesenian Gembyung, Lukisan kaca, Topeng Cirebon, dan Sandiwara Cirebonan. Salah satu kerajinan Cirebon yang memiliki khas yang terkenal adalah dengan motif Mega Mendung
zhons

Citros bus pariwisata



Citros bus pariwisata Cirebon

Buat masyarakat Cirebon dan para wisatawan yang berkunjung, ada kabar yang sangat menggembirakan. Sekarang, sudah bisa merasakan keliling tempat wisata dengan menggunakan transportasi yang bernama bus Citros atau kepanjangan dari Cirebon Tourism on Bus. Traveling makin mudah di Cirebon.

bus Wisata Citros dengan kapasitas untuk 20 penumpang tersebut rencananya akan dilengkapi dengan mini bar dan mini distro, oleh-oleh khas Cirebon, serta akan dipandu oleh guide.

“Karena bus wisata ini juga dilengkapi dengan sound system untuk menjelaskan tempat yang dilewati , seperti halnya busway transhakarta,

“BUS PARIWISATA khas Cirebon sudah mulai beroperasi melayani titik2 wisata termasuk Keraton Kasepuhan dan kuliner nyam nyam khas Cirebon. Akan hadir di 27 kota/kab se Jabar, Bagian dari kinerja nyata membangun Jawa Barat melalui lokomotif ekonomi Pariwisata. #JabarJuara” dilansir Travelingyuk dari cuitan Ridwan Kamil pada Minggu (24/2/2019).
zhons

Lawang Trusmi malioboro cirebon

Kota Cirebon, adalah salah satu kota yang berada di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Kota ini berada di pesisir utara Pulau Jawa atau yang dikenal dengan jalur pantura yang menghubungkan Jakarta-Cirebon-Semarang-Surabaya.

Cirebon memiliki sebuah terminal bus harjamukti jika anda posisi dari terminal bus  harjamukti menuju kearah bandung aatau jakarta akan melewati sebuah lawang trusmi pas bertepatan dengan lampu merah plered 

Lawang Trusmi menghubungkan ke arah sentral batik Trusmi 



KABUPATEN Cirebon kaya akan lokasi yang memiliki potensi menjadi destinasi wisata, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cirebon pun terus menggali dan mengembangkan potensi-potensi wilayah yang bisa dijadikan destinasi wisata tersebut.

Seperti di antaranya lokasi Lawang Trusmi yang ada di Desa Weru Lor, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon. Lokasi tersebut oleh pemda setempat, akan dijadikan destinasi wisata seperti di Yogyakarta, yakni Malioboro. Bahkan, grand desainnya pun sudah ada.

Rencana Pemkab Cirebon yang akan menjadikan lokasi tersebut sebagai Malioboronya Cirebon disambut baik oleh masyarakat setempat. Di antaranya oleh Karang Taruna Desa Weru Lor. Bahkan, untuk melakukan uji cobanya, mereka menghadirkan kesenian tradisional SINTREN DAN ANGKLUNG KHAS JAWA BARAT setiap malam Minggu. Acara di mulai pada sore hingga malam 17:00-21:00